oleh

Workshop Wartawan ‘Meningkatkan Daya Saing Global’

OKEBUNG |
Pertumbuhan pasar modal Indonesia yang atraktif setiap tahunnya semakin menarik minat berbagai insvestor di dalam dan luar negeri.

Namun, secara kimulatif rata-rata tingkat imbal hasil per tahun hasil insvestasi di pasar saham Indonesia tercatat yang tertinggi sejak 2009 lalu dengan angka mencapai 28.08%.

Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi jika dibandingkan rata-rata tingkat imbal hasil di delapan bursa saham dan nilai rata-rata lain yakni, New York Stock Exchange 11, 42%, Australia Stock Exchange 7,45%, Bursa Malaysia 15,60%, Hongkong Exchange9,33%, Bursa Efek Indonesia 28,08%, Philiphine Stock Exchange27,10%, Singapore Exchange 2,23% dan The Stock Exchange of Thailand 25,71%.

Kepala Kantor Perwakilan Bursa efek indonesia (BEI) Medan M. Pintor Nasution, mengatakan sayangnya, masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengetaui potensi keuntungan dari berinvestasi di pasar saham Indonesia.

“Masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengetaui potensi keuntungan dari berinvestasi di pasar saham Indonesia,” ujarnya.

Sesuai dengan data Survei Nasional Literasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di 2013, tingkat literasi masyarakat Indonesia terhadap pasar modal masih sangat minim. Selain itu, masyarakat Indonesia yang tergolong well literate tentang pasah modal masih berada di angka 3,79%.

Padahal, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oelh salah satu lembaga keuangan internasional pada 2013, diperkirakan pada 2019 jumlah individu yang berasal dari keluarga dengan pendapatan di atas US$100.000 per tahun ada sebanyak 1,93 juta jiwa, dan jumlah individu yang berasal dari keluarga dengan pendapatan di antara US$50.000 – US$100.000 per tahun sebanyak 2,2 juta jiwa.

“Pada 2019 jumlah individu yang berasal dari keluarga dengan pendapatan di atas US$100.000 per tahun ada sebanyak 1,93 juta jiwa, dan jumlah individu yang berasal dari keluarga dengan pendapatan di antara US$50.000 – US$100.000 per tahun sebanyak 2,2 juta jiwa,” ungkapnya.

Dan data Bank Dunia di 2010 menunjukan peningkatan jumlah masyarakat menengah Indonesia menjadi 134 juta jiwa atau 60% dari total jumlah penduduk, di banding 2003 sebesar 37,7% dari total penduduk Indonesia. Artinya peluang untuk meningkatkan jumlah pengguna produk dan jasa pasar modal masih terbuka lebar, mengigat potensi jumlah kelas menengah di Indonesia juga semakin meningkat.

Untuk kali ini, BEI bersama Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) kembali mengelar acara Workshop wartawan di Medan yang bertempat di JW Marriot Hotel Medan, Jumat (31/10/2014).

Dalam workshop wartawan, tersebut, diskusi interaktif yang dihadirkan oleh BEI, KPEI dan KSEI kepada para wartawan tentang tema-tema teraktual di industri pasar modal diantaranya seperti upaya BEI meningkatkan daya saing global, peran dan fungsi KPEI di pasal modal Indonesia, Akses dengan Folus pemisahan rekening dana nasabah oleh KSEI. (roy)

News Feed