oleh

Terlibat Penipuan Dan Penggelapan Jual Beli Rumah,Sekeluarga Diamankan Polda Sumut

OKEBUNG|
Kasus penipuan dan penggelapan dalam kasus jual beli empat unit rumah yang terletak di Jalan Diponegoro No.8 dan No.10 Medan berhasil diungkap oleh Subdit II Harda Tahbang Dit. Reskrimum Polda Sumut.

Tak tanggung, yang menjadi tersangka kasus ini adalah satu keluarga, masing-masing Taslim(54), sebagai ayah yang tinggal di Jalan Sudirman Lubukpakam, istri sirinya, A Moe alias Ango alias July alias Chuang Suk Ngo (62) isteri siri Taslim yang tinggal di Jalan Bakaranbatu, Komplek Walet Mas No.99-A Lubukpakam dan anaknya Bobi(34), tinggal di Jalan Bakaranbatu, Komplek Walet Mas No.90 A-B Lubukpakam.

Direktur Direktorat Reskrimum Polda Sumut, Kombes.Pol. Dedi Irianto didampingi Kasubdit II Harda Tahbang AKBP. Yusup Sapruddin, Selasa (09/09/2014) menyebutkan, bahwa kronologis kasus penipuan ini terjadi pada bulan April 2009 silam.

Saat itu A Moe alias Ango datang kerumah korban, Indra Wijaya untuk menawarkan dua pintu rumah yang berada di Jalan Diponegoro No. 6,8,10 dan 12 Medan. Dengan menunjukan Sertifikat palsu hak milik No.535 tanggal 20 Desember 2000 atas nama Halim Wijaya dan foto copy risalah lelang No. 349/2009 tanggal 12 Juni 2009. Kemudian, rumah tersebut pun dibeli oleh korban bersama isterinya, Dr. Lie Li Ling dengan membayar Rp 17,468 miliar, yang dibayar secara bertahap.

” Setelah menerima sertifikat itu, korban berupaya untuk menguasai empat unit rumah yang telah dibelinya itu. Namun upaya korban tersebut tak berhasil. Karena, sertifikat dan risalah lelang yang diberikan tersangka kepada korbanya adalah palsu dan tidak terdaftar di kantor Pertanahan Kota Medan dan di kantor Lelang Negara Medan,” ujar Dedi.

” Setelah menerima sertifikat itu, korban berupaya untuk menguasai empat unit rumah yang telah dibelinya itu. Namun upaya korban tersebut tak berhasil. Karena, sertifikat dan risalah lelang yang diberikan tersangka kepada korbanya adalah palsu dan tidak terdaftar di kantor Pertanahan Kota Medan dan di kantor Lelang Negara Medan,” ujar Dedi.

Saat korban menanyakan status rumah yang telah dibayarnya itu, A Moe alias Ango tetap bersikukuh bahwa 4 pintu rumah itu dibelinya saat lelang di Pengadilan Negeri Medan seharga Rp 550 Juta tiap unitnya. Dan saat itu, kepada korban A Moe alias Ango kembali menunjukan foto copy risalah lelang dari kantor pelayanan lelang kekayaan negara yang sebenarnya berasal dari lelang fiktif tersebut.

” Peran suami siri A Moe alias Ango bernama Taslim dalam kasus ini adalah karena dirinya berperan menerima uang sebesar Rp 2,360 miliar dari korban dengan menggunakan rekening BCA atas namanya,” sebut Dedi.

Sementara, anak A Moe alias Ango yang bernama Bobi berperan menerima uang sebesar Rp 60 juta dari korban yang dikatakan untuk membayar kekurangan pembayaran rumah dari ibunya A Moe alias Ango.

Menurut Dedi, para tersangka ini juga sebelumnya pernah dilapor ke polisi terkait beberapa kasus penpuan dan penggelapan.

A Moe alias Ango, ternyata cukup handal dalam bisnis tipu menipu yang telah memberikanya keuntungan puluhan miliar rupiah.Pasalnya dalam keterangan pers yang disampaikan Dedi di depan komando yang dipimpinya itu, terungkap A Moe alias Ango sebelumnya pernah dilaporkan ke polisi.

” Ada tujuh laporan polisi soal kasus penipuan dan penggelapan yang telah dilakukan A Moe alias Ango ini. Diperkirakan, dari keseluruhan kerugian korban yang melaporkanya itu A Moe alias Ango berhasil meraup sekitar Rp 60 miliar rupiah,” ujarnya.

Terkait kasus ini, lanjut Dedi pihaknya akan segera memanggil oknum pihak pengadilan yang diduga terlibat dalam ksus penipuan dan penggelapan ini.
” Secepatnya akan kita panggil oknum pengadilan yang diduga terlibat dalam kasus ini,”tegas Dedi(el)

News Feed