oleh

Terkait PRT Asal Garut,Handoko Dan Fatimah Penuhi Panggilan Polisi

OKEBUNG|
Terkait kasus dugaan penyiksaan dan penyekapan terhadap seorang pembantu rumah tangga (PRT),Sri Muliati asal Desa Lingga Mukti, Kec. Sucina Raja, Kab. Garut, Jawa Barat,penyidik Poldasu memeriksa ,Handoko dan Fatimah.

Kasus dugaan penyiksaan tersebut terkuak setelah ayahnya, Rukman (43) dan pamannya, Dadang (45) dapat informasi lewat SMS akhir Januari 2015lalu. Isinya, mengabarkan keberadaan Sri di Medan  menjadi pembantu.

Bahkan kononnya Sri di Informasikan menjadi korban penyiksaan dan pelecehan sexsual serta tak digaji selama 6 tahun oleh majikannya .Akibatnya, kasus tersebut pun menjadi sorotan publik dan menjadi pekerjaan pihak polisi.

Namun sebuah cerita pilu yang datang dari Sri Muliati tersebut di bantah oleh salah seorang sumber yang kesehariannya berada di gedung Renakta Poldasu,yang mengatakan bahwa Fatimah dan Handoko tidak ada melakukan penyiksaan terhadap Sri, apa lagi melakukan pelecehan seksual,bahkan sumber juga menyebut Handoko dan Fatimah adalah majikan yang mengerti masalah hukum,”kata sumber yang meminta namanya jangan ditulis.

Selain itu sember juga menyebut,apa yang ada berita di media itu tidak benar,bahwa Sri mengalami ,penyiksaan, dan pelecehan sex oleh majikannya ,itu terlalu mengada -ngada,dan entah dari mana sumbernya ,jadi tegasnya Sri itu tidak ada mengalami apa yang di beritakan media massa hari ini,”lanjut sumber.

Dan masalah usia yang di katakan bahwa Sri awal bekerja di Rumah Handoko berumur 13 tahun itu juga tidak benar,bahkan Majikan Sri awalnya telah menanyakan langsung ke Sri,dan Sri mengatakan kepada Fatimah umurnya 17 tahun.Buktinya sebut sumber lagi,jika pasangan suami istri ini bersalah jelasnya mereka sulit untuk di panggil,dan ini malah sebaliknya ,mereka sekarang telah datang,memenuhi panggilan penyidik Renakta Poldasu dengan kesadarannya sendiri,kan itu berarti mereka sadar akan hukum,”ungkap sumber

Sementara pantauan media ini di gedung Renakta Poldasu,Fatimah terlihat membaca berkas yang di sodorkan penyidik,dan dengan cermat Fatimah yang datang mengenakan baju putih plus rok hitam bermotif batik membacanya dan lalu menandatangi berkas yang di sodorkan penyidik.

Usai menandatangani secarik berkas yang di sodorkan penyidik Handoko yang mengenakan celana jeans berkemeja kotak-kotak motif putih cream menyandang tas terlihat ramah mengubar senyum kepada wartawan berdampingan bersama istrinya langsung memasuki ruangan Kasubdit IV/Renakta guna bertemu dengan AKBP Juliana Situmorang,SH,CN.

Selanjutnya setengah jam kemudian,pasutri tersebut keluar dari Ruangan Kasubdit IV/Renakta, Handoko dan Fatimah tanpa diminta langsung menyalami para wartawan.

Ketika ditanya seputar pemberitaan di media tentang dirinya,Handoko dan Fatimah hanya tersenyum,dan dengan perlahan Fatimah mengatakan ,Makanya saya datang kepolda ini untuk memberikan penjelasan yang sebenarnya terkait masalah Sri,”katanya.

Bahkan Fatimah mengatakan,semua pemberitaan yang menyangkut keluarganya itu terlalu di ada-adakan, sebenarnya itu hanya keterangan sebelah pihakkan yang lebih mengetahui itu kan saya dan suami saya serta Sri,”jelas Fatimah menambahkan.

“Saya inikan perempuan,yang juga pernah melahirkan,dan paham tentang kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya,sedangkan Sri selama sama saya tidak ada masalah,bahkan Sri itu sudah saya anggap anak sendiri,”ujar Fatimah

Ketika di tanya tentang adanya dugaan penyiksaan dan pelecehan sexsual terhadap korban,Fatimah menjawab dengan tegas,inikan kantor Polisi dan masalah ini juga telah di tangani oleh Polisi,semua itu hanya pihak kepolisian yang mengetahuinya ,dan apa lagi sekarang inikan peralatan medis sangat canggih,silakan saja di lakukan pemeriksaan terhadap Sri,apakah ada bekas atau tanda-tanda penyiksaan,”ujar Fatimah.

Masih kata Fatimah bahwa dirinya mengatakan jika terbukti dari pemeriksaan medis Sri mengalami penyiksaan saya bersedia untuk bertanggungjawab.

“Kalau Sri terbukti mengalami penyiksaan,saya siap bertanggung jawab!”tegas Fatimah

Sementara itu,Kasubdit IV/ Renakta ,AKBP Juliana Situmorang,SH,CN ketika di konfirmasi membenarkan kedatangan Handoko dan Fatimah.Dia menyebutkan, kedatangan Handoko dan Fatimah kemari hanya memenuhi panggilan untuk dilakukan pemeriksaan BAP (Berita Acara Pemeriksaan)nya sebagai saksi.”jelas Juliana.

Ketika disinggung,apakah ada bukti-bukti penyiksaan dan pelecehan sexsual,perwira ini menyebutkan ,untuk sementara masalah itu lagi kita dalami,tapi dari pemeriksaan awal yang saya terima tanda-tanda itu tidak ada,namun jelasnya pihaknya masih melakukan pendalaman,inikan baru pemeriksaan awal,”pungkasnya.[El]

Foto|ilustrasi

News Feed