oleh

Terbukti Jual Amunisi ke OPM, Oknum Polisi Dipecat

OKEBUNG|
Terbukti menjual amunisi kepada kelompok bersenjata sayap Organisasi Papua Merdeka (OPM), Brigadir Satu Tanggam Jikwa, anggota Polsek Nduga dipecat secaara tidak hormat dalam Sidang Profesi dan Kode Etik digelar Kepolisian Daerah Papua dipimpin Ketua Komisi Etik Polri, Kompol Irwan Sunurdin yang berlangsung di ruang Rastra Samara, Mapolda Papua, Senin (10/11/2014).

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua, Kombes Pol Sulistyo Pudjo mengatakan Tanggam Jikwa dituntut melanggar Pasal 13 ayat 1 dan Pasal 14 ayat 1, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2003 tentang pemberhentian anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Selain itu menurut Pudjo, Tanggam juga didakwa melanggar Pasal 6 poin C dan E dan Pasal 7 poin B, serta Pasal 12 poin A dan B, Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2011 tentang kode etik profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia.

“Yang bersangkutan telah melanggar sumpah/janji anggota Kepolisian, sebagaimana Pasal 13 dan 14 Peraturan Pemerintah RI Nomor 1 Tahun 2003, dan melanggar Kode Etik Profesi karena bekerja sama dengan kelompok yang jelas melawan kedaulatan NKRI,” ungkap Pudjo,sebagaimana dikutip dari kompas.com.

*Terdakwa Akui Bangun Jaringan dengan Kelompok OPM*

Dalam persidangan, Komisi Etik mempertanyakan hilangnya senjata Revolver Colt milik Pos Polisi Sub Sektor Sinakma pada 24 Februari 2014 dan amunisi yang dijual kepada kelompok bersenjata sayap OPM. Menjawab pertanyaan Komisi Etik, Tanggam mengakui telah menghilangkan senjata Revolver. Namun, ia mengatakan hal itu terjadi tanpa disengaja saat mengalami kecelakaan di Wamena.

“Waktu itu saya habis minum (minuman keras) dengan teman, dan saat mengendarai motor membonceng Nikson, saya mengalami kecelakaan di Jalan JB Wenas, depan Gereja Kalvari Wamena. Saya baru sadar kehilangan senjata di Rumah Sakit,” ungkap Tanggam.

Berdalih hendak mendapatkan kembali senjatanya, sejak April 2014, Tanggam mengaku berhubungan dengan Kelompok Militer OPM dan berhubungan dengan Dinus Wakerkwa, salah seorang pentolan kelompok tersebut. Namun kegiatan yang tak diketahui pimpinannya tersebut, Tanggam mengaku diperalat dengan keharusan menyediakan amunisi, dan dijanjikan mendapatkan kembali senjatanya setelah ditemukan.

“Saya memberikan 18 butir amunisi. Pertama saya berikan 7 butir ke Dinus di Lanny Jaya dan ia memberikan uang taksi 400 ribu Rupiah. Dua pertemuan berikutnya dengan anggota Dinus, saya memberikan 6 butir dan 5 butir di Puncak Jaya. Disitu saya diberi uang 300 ribu,” jelas Tanggam.

Mengenai 29 butir amunisi kaliber 7,62 milimeter dan 2 buah magazen yang disita Timsus Polda Papua, Tanggam mengaku memerolehnya dari Serda Urbanus Wenda, pensiunan bintara TNI. Sementara 231 butir amunisi yang ditemukan di rumah kontrakan Tanggam di Wamena, menurut Tanggam, diperoleh dari anggota TNI yang bertugas di Koramil Kurima, Serda Arsyad.

“Dari pengakuan Tanggam, 29 butir amunisi dan 2 magazen diperoleh dari Serda Urbanus dengan memberi uang 500 ribu Rupiah. Tanggam mengaku amunisi tersebut untuk persediaan di Pos Polisi Sub Sektor Nduga, Kabupaten Nduga. Sementara 231 butir amunisi lain diperoleh dari Serda Arsyad, anggota TNI yang bertugas di Koramil Kurima,” ungkap Kompol Irwan. (kps/net)

Foto:kps\net\

News Feed