oleh

Sidang Korupsi BBM Solar di Dinas Kebersihan,Rekanan Divonis 3 Tahun

OKEBUNG|
Tiga terdakwa kasus dugaan korupsi pengadaan Bahan Bakar Minyak (BBM) solar untuk truk pengangkut sampah pada Dinas Kebersihan Kota Medan, akhirnya divonis Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Medan, Senin (03/11/2014). Mereka dinyatakan bersalah mengkorupsi secara bersama-sama dan berkelanjutan.

Dalam putusan Majelis Hakim diketuai Nelson Japasar Marbun, terdakwa Edi selaku rekanan serta menjabat sebagai Direktur CV Anugerah Lestari, dihukum bersalah selama 3 tahun penjara denda Rp50 juta subsider 1 bulan kurungan.

“Mengadili menyatakan terdakwa Edi terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan korupsi secara bersama-sama dan berkelanjutan. Menjatuhi hukuman penjara selama 3 tahun denda Rp50 juta subsider 1 bulan kurungan,”ucap Hakim diruang Cakra VI Pengadilan Tipikor Medan.

Tak hanya kurungan badan, Edi juga diperintahkan membayar uang pengganti (UP) Rp100 juta. Dengan ketentuan apabila tidak sanggup membayar maka harta benda disita dan dilelang untuk negara.

“Jika tidak sanggup membayar maka diganjar dengan penjara selama 1 bulan,”jelas hakim dihadapan JPU Ferdinan.

Sementara,itu dua staf Dinas Kebersihan yakni Abdul Muthalib, pembagi voucher BBM ke pihak kecamatan, dan Adnan selaku petugas dari Dinas Kebersihan Kota Medan yang ditempatkan di SPBU Kasuari, divonis 2 tahun 8 bulan penjara denda Rp50 juta susider 1 bulan kurungan. Keduanya tidak dikenakan UP. Sebab tidak menikmati hasil korupsi tersebut.

Sebelumnya,JPU menuntut ketiganya lebih tinggi. Dimana 2 staff Dinas Kebersihan dituntut selama 4 tahun dan denda Rp200 juta dengan subsider selama 3 bulan kurungan.

Sedangkan Edi, dituntut hukuman penjara selama 5 tahun dan denda Rp200 juta dengan subsider 3 bulan kurungan. Selain itu, dia juga diwajibkan membayar Uang Pengganti (UP) Rp4,9 miliar dengan subsider 2 tahun kurungan.

Dalam amar putusan hakim tersebut, ada menyebutkan Kepala Dinas Kebersihan Pardamean Siregar dapat dimintai pertanggungjawabannya karena turut serta bersama-sama. Karena orang nomor satu di Dinas itu, ada menyerahkan Rp100 juta kepada sopir truk pengangkut sampah.

Hakim pun, menilai ketiganya bersalah melanggar Pasal 3 ayat (1) jo Pasal 18 UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 junto pasal 56 KUHPidana.

Usai mendengarkan putusan majelis hakim, ketiga terdakwa yang didampingi penasehat hukumnya menyatakan pikir-pikir. Hal serupa dikatakan JPU.

Sebagaimana diketahui, ketiga terdakwa didakwa melakukan korupsi pengadaan Bahan Bakar Minyak (BBM) solar untuk truk pengangkut sampah pada Dinas Kebersihan Kota Medan, dengan kerugian negara Rp5 miliar dari anggaran tahun 2013 sebesar Rp14 miliar.

Ketiganya mengorupsi dengan cara memark up harga solar dari Rp4.500 per liter.  Dimana Edi mendapatkan fee per liternya sebesar Rp400. Sedangkan Abdul Mutholib Rp100 dan Adnan Rp100. Sementara sisanya sekitar Rp3.900. Pembagian fee dari harga solar Rp4.500 per liter itu dilakukan Januari hingga Juni 2013. Pada Juli 2013, harga BBM naik sehingga harga solar menjadi Rp5.500 per liter.

Pada pertengahan tahun kemarin ada terjadi kenaikan BBM, sehingga fee mereka juga ikut naik. Untuk si Edi mendapatkan Rp500, Abdul Mutolip Rp150 dan Adnan Rp150. Sisanya sekitar Rp4.700. Dalam pembagian voucher sudah jelas dirinci berapa banyak yang dibagikan kepada setiap kecamatan.

Truk sampah yang dimiliki Dinas Kebersihan Kota Medan di 21 kecamatan di Kota Medan sebanyak 187 unit, ditambah lagi dengan armada di Kantor Dinas Kebersihan Kota Medan. Sehingga total keseluruhannya ada sekitar 200 unit lebih armada. Dalam dakwaan disebutkan  voucher tersebut dibagikan kepada seluruh angkutan sampah. Setiap supir bisa menukar solar 25 liter di SPBU  Kasuari dengan masa berlaku satu hari,(bkm)
Foto:Ilustrasi\

News Feed