oleh

Polresta Medan Diminta Ambil Alih Kasus PRT Disiksa Majikan di Polonia

OKEBUNG|
Kepolisian Resort Kota Medan (Polresta)diminta untuk mengambil alih kasus penyiksaan yang menimpa,Apri Emi Lena (22)seorang Pembantu Rumah Tangga (PRT)asal Desa Naetae,Kec Fatueu,Kab Kupang,Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dilakukan majikannya.

Pasalnya,dalam kasus ini banyak kejanggalan dan sepertinya diduga ada permainan pat gulipat antara pelaku dengan oknum penyidiknya.

Buktinya,pelaku telah mengakui kesalahannya melalui surat pernyataan yang dibuatnya.Disurat tersebut ada beberapa Point yang menyatakan bahwa pelaku memang ada melakukan kekerasan fisik terhadap korbannya.

Namun,dalam penyidikan di Polsek Medan Baru pelaku tidak ditahan dengan alasan tidak ada saksi dan visum.

Berdasarkan dari surat pengakuan pelaku sudah bisa dijadikan tersangka dan ditahan.Jadi dalam kasus penyiksaan PRT asal Kupang tersebut diduga ada permainan.

Berdasarkan informasi diperoleh okebung.com menyebutkan,kasus penyiksaan terhadap Apri yang dilakukan A Sim alias Andi Sahat (54)warga Jalan Ternak No 69,Kel Polonia,Kec Medan Polonia pada Rabu (15/10/2014) sekira pukul 20.00 WIB lalu sehingga dilaporkan ke Mapolsek Medan Baru dengan bukti surat lapor Nomor :STTPL /2089/X/2014/SPKT -Sek-Medan Baru dengan pasal 44 ayat (1)UU RI No 23 Tahun 2014,tentang tindak pidana kekerasan atau penganiayaan tersebut telah berdamai dan pelaku tidak ditahan.

Namun,setelah ditelusuri kepada sumber okebung.com yang layak dipercaya menyebutkan bahwa antara korban dan pelaku tidak ada berdamai,hanya pelaku membuat surat pernyataan diatas materai yang isinya adalah bahwa pelaku tidak akan mengulang perbuatannya dan pelaku mengakui bahwa dirinya telah melakukan kekerasan fisik terhadap korban.

“Pelaku tidak ada berdamai dan kasusnya masih berjalan di Mapolsek Medan Baru.Kalau damai tentu ada surat perdamaian dan ganti rugi terhadap korban,”ungkap sumber,Kamis (06/11/2014)malam.

Dijelaskannya bahwa dalam kasus ini pihak kepolisian yang menanganinya diduga telah bermain mata dengan pelaku.Pasalnya,kenapa pelaku tidak ditahan dan dibebaskan hanya dengan bukti surat pernyataan saja.

“Pelaku kalau mau berdamai harus bayar gajinya korban selama setahun dan membayar ganti rugi istilah pago-pago,korban orang susah dikampungnya,”tegasnya.

Sementara itu,Kapolsek Medan Baru, Kompol Nasrun Pasaribu ketika dikonfirmasi okebung.com beberapa waktu lalu menyebutkan,korban dan pelaku telah berdamai dan lagi pula tidak ada saksi dalam penganiayaan tersebut.”Korban dan pelaku telah berdamai,”ujarnya.

Ironisnya,dalam surat pernyataan yang dibuat pelaku tertera bunyi pada Point 1 dan 2 menyatakan bahwa pelaku mengakui perbuatannya melanggar hukum dan telah melakukan tindak pidana kekerasan fisik terhadap korban.Namun,korban tidak ada menerima uang pago-pago dari pelaku,hanya rencananya akan diberikan uang sebesar Rp 7 juta dari pihak Yayasan Paulisa sebagai penyalur PRT.

“Ya rencananya Sabtu besok korban di Polsek Medan Baru akan menerima uang Rp 7 juta dan aakan dipulangkan,tapi pulang sendiri,tidak seperti apa kata polisi bakal dipulangkan mereka,”beber sumber.

Jika korban,lanjut sumber,pulang sendiri,maka nyaris akan nyasar dan tak akan sampai kekampungnya,sebab kekampungnya dua kali transit dan korban buta huruf.Kami telah menghubungi pihak keluarganya di Kupang melalui pemberitaan media online dan di broadcastkan dan menyambung kepihak keluarganya.

“Keluarganya telah menerima pesan kami melalui berita media online sehingga mengetahui bahwa anaknya di Medan disiksa majikan.Iya kalau keluarganya menerima anaknya pulang begitu saaja,kalau menuntut siapa yang mau bertanggung jawab.Apalagi korban pulang sendirian tidak ada yang mengantarnya.Maka itu ada baiknya Bapak Kapolda Sumut dapat memerintahkan bawahannya untuk mengantar korban kekampung halamannya,”pintanya.

Sumber menyebutkan,secara kemanusiaan sajalah kita,bagaimana jika hal seperti korban alami menimpa kepada kita,tentu kita akan marah.Maka ada baiknya korban diantar dengan petugas polisilah.

“Polisi diminta untuk membantu korban agar mengaturnya kekampung,kita lihat dari segi kemmanusiannya saja,”ucapnya.

Sebagaimana diketahui sejak peristiwa dilaporkannya majikan Apri ke Mapolsek Medan Baru,korban menginap dirumah Kepala Lingkungan VI Kel Polonia,Kec Medan Polonia Effendi Sumual.Dirumah itu korban hidup bersama keluarga kepling.(admin)

Foto:LP dan Surat Pernyataan Pelaku/

News Feed