oleh

Petugas Shabara Bantah Lakukan Pemukulan  Wartawan

OKEBUNG|
Terkait dengan hebohnya pemberitaan dan aksi demo yang dilakukan insan jurnalist untuk mengusut tuntas dugaan kasus pemukulan terhadap wartawan Harian Andalas,Thamrin Samosir yang diduga dilakukan petugas Shabara Polresta Medan mendapat bantahan keras dari Bripda M Ageng Pratama.

“Saya sangat kecewa dengan pemberitaan miring yang menyudutkan diri saya dan teman-temannya sesama petugas Sabhara yang saat itu bertugas di PRSU,”ungkap Ageng kepada okebung.com,Kamis (09/04/2015).

Menurut  Bripda M Ageng Pratama yang juga putra Wahyudi salah seorang wartawan senior di Kota Medan ini menyebutkan tidak ada tindakan kekerasan dan penganiayaan yang dilakukan dirinya dan teman-temannya sesama petugas Shabara Polresta Medan yang saat itu meliput di PRSU tersebut. 

“Pemberitaan dimedia itu hanya sepihak dan benar-benar keterlaluan sekali.Saya dan rekan-rekan tidak ada melakukan pemukulan terhadap Thamrin Samosir,”kesalnya.

Masih dijelaskan Ageng, pada malam itu terjadi keributan kecil didepan panggung konser musik di Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU). Melihat keributan lantas petugas Sabhara berhasil mengamankan lima orang pengunjung yang diduga membuat ribut di depan pangung tersebut dan langsung membawanya di pos satpam untuk dimintai keterangan dan dilakukan pendataan.

” Malam itu ada keributan kecil didepan panggung musik yang ada di PRSU,lantas diamankan rekan saya dan langsung didata oleh katim kami, kelima orang tersebut kemudian diperbolehkan meninggalkan pos satpam,” ujar Ageng. 

Selang beberapa saat kemudian,kata Ageng, terdengar cekcok mulut dua orang pengunjung di areal depan PRSU yang tak jauh dari pos satpam. Mendengar suara gaduh mulut tersebut teman-teman Ageng yang bertugas di PRSU tersebut cepat mengamankan keduanya.

“Kemudian kulihat ada petugas dari Polsek Helvet menyuruh kedua orang ini bubar karena bisa mengganggu jalan keluar para pengunjung. Tetapi salah seorang diantaranya melawan dan nggak mau disuruh keluar, kemudian datang teman kita dari Sabhara yang juga menyuruh keluar pria yang buat ribut itu tetapi pria tersebut juga  tidak mau keluar dan tiba-tiba pria itu mengeluarkan kalimat “Maa Betul Aja Kalian Polisi,” tutur Agung menirukan ucapan pria itu

Kemudian kata Ageng pria  tersebut dibawa petugas Sabhara ke pos satpam dan baru diketahui kalau pria tersebut adalah seorang wartawan Harian Andalas.

” Kalau katanya dia melakukan peliputan itu nggak ada, dia beradu mulut dengan temannya itu dan kemudian dia diamankan ke pos, setelah diamankan ke pos baru kita tau kalau dia seorang wartawan,” ungkap Ageng semberi menyebutkan tidak ada tindakan pemukulan yang dilakukan teman-temannya itu.  

Di pos satpam pun sebut Ageng, pria yang nyebut wartawan tersebut juga sempat menantang petugas,” Di pos pun dia sempat  nantang kawan kami, kutunggu kau di luar ya, ” ungkap Ageng menirukan ungkapan oknum wartawan tersebut.

Tetapi hal tersebut cepat ditenangkan oleh katimnya dan selang kemudian para petugas Sabhara termasuk Ageng melanjutkan tugas ke wilayah Sambu karena ada keributan pedagang.

“Saat keributan saya tidak ditempat ,karena dia ngaku wartawan,lantas saya dipanggil rekan saya.Namun, kenapa saya disebut-sebut juga sebagai pelaku dan terikut-ikut,”imbuhnya seraya mengatakan bahwa aksi pemukulan tak ada sama sekali.

Terpisah,Kasat Sabhara Polresta Medan, Kompol Tris Lesmana Zeviansyah,saat dikonfirmasi mengaku tengah menyelidiki kasus ini. “Masih kita lidik dan akan kita panggil anggota untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya,” katanya.

Sementara itu,wartawan senior Medan, Wahyudi yang juga orang tua salah seorang petugas Sabhara tersebut sangat menyesalkan adanya pemberitaan yang sangat menyudutkan petugas Shabara,yang salah satunya anak kandungnya tersebut.

“Tidak profesional itu,namanya wartawan harus konfirmasi dan chek dan riceklah baru diberitakan dan harus berimbang.Jangan sepihak ,selidikalah dulu apa motif sebenarnya di TKP dan meminta keterangan pedagang di PRSU,ada pemukulan apa tidak,”kesal Yudi.

Menurutnya pemberitaan itu dibesar-besarkan yang tidak sesuai dengan peristiwa yang sebenarnya.

” Kalau memang oknum wartawan tersebut dianiaya, kok wajahnya tidak ada memar,dan lagi pula kalau memang oknum wartawan tersebut  dipukuli sejumlah oknum Shabara pasti wartawan tersebut sudah terkapar.Jadi janganlah melakukan pemberitaan yang mengada-ada untuk mendapatkan sesuatu maksud tertentu,” ungkap Wahyudi. 

Wahyudi juga menyebutkan, mendengar kabar adanya peristiwa tersebut dirinya sudah meminta maaf dengan oknum wartawan yang katanya dianiaya oleh petugas Shabara tersebut.

” Mendengar kabar tersebut, walaupun belum tentu benar kejadian tersebut , saya sudah menghubungi oknum warttawan tersebut dan secara pribadi saya sudah minta maaf karena anak saya juga bertugas di Shabara. Tetapi nampaknya oknum wartawan tersebut tidak menerima permintaan maaf saya dan kemudian meributi hal ini,” kesal Wahyudi,seraya menyebutkan padahal ortunya juga tugas di kepolisian.

Sebagaimana diketahui,petugas Shabara Polresta Medan,pada Minggu (05/04/2015) malam dituding telah melakukan dugaan pemukulan terhadap salah seorang oknum wartawan saat meliput di arel Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU).

Atas tudingan tersebut membuat sejumlah pemberitaan menghiasi kolom-kolom koran dan media online di Medan.[admin]

Foto |ilustrasi\

News Feed