oleh

Peran Pemerintah Dalam Menghadapi Tantangan Indonesia Kedepan 

OKEBUNG|
Bertambah pesatnya populasi penduduk dunia yang tidak diimbangi dengan ketersediaan pangan, air bersih, dan energi akan menjadi pemicu munculnya konflik-konflik baru. 

Indonesia sebagai salah satu negara ekuator yang memiliki potensi vegetasi sepanjang tahun akan menjadi arena persaingan kepentingan nasional berbagai negara. 

Untuk itu, diperlukan langkah antisipasi agar keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia terjaga. Konflik-konflik di belahan dunia terjadi akibat persaingan kepentingan antar negara untuk menguasai sumber energi.

“Aparatur Negara harus berani mengambil peluang pada peranan masing-masing, Menuju Indonesia emas tahun 2045 kita menjadi negara yang kuat. Jangan sampai menjadi penonton di negara sendiri” Tegas Pangdam Jaya Mayjen TNI Agus Sutomo, S.E., dalam seminar bertema “ Peran Aparatur Pemerintah Dalam Menghadapi Tantangan Indonesia Kedepan“ dihadapan Aparatur TNI, Polri dan pemerintahan Tangerang yang dilaksanakan di gedung serbaguna Kabupaten Tangerang, Kamis (07/05/2015).

Tantangan aparatur pemerintahan pada saat ini adalah harus menjadi tulang punggung peningkatan kualitas kesejahteraan masyarakat. Saat ini bangsa Indonesia yang diakui sebagai bangsa yang besar, bangsa yang kaya baik itu sumber daya alam (SDA)  maupun sumber daya manusia (SDM) juga tengah dihadapkan dengan tantangan yang begitu besar.

Selain Indonesia akan mendapat tantangan global didepan mata berupa Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015, ternyata Indonesia juga tengah menghadapi tantangan yang justru datang dari sumber daya itu sendiri. 

Berkaitan dengan hal tersebut Pangdam Jaya memberikan Motivasi dan penajaman pemikiran bagi para aparatur pemerintahan  agar lebih serius dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap kemajuan Bangsa Indonesia. 

Menyikapi dengan melemahnya kecintaan dan rasa nasionalisme bangsa Indonesia perlunya digali kembali tentang wawasan kebangsaan.

Lebih lanjut Pangdam Jaya menerangkan Sifat dan karakteristik perang telah bergeser seiring dengan perkembangan teknologi. Kemungkinan terjadinya perang konvensional antar dua negara dewasa ini semakin kecil. 

Namun, adanya tuntutan kepentingan kelompok telah menciptakan perang-perang jenis baru. Diantaranya Perang proxy atau proxy war adalah sebuah konfrontasi antardua kekuatan besar dengan menggunakan pemain pengganti untuk menghindari konfrontasi secara langsung dengan alasan mengurangi risiko konflik langsung yang berisiko pada kehancuran fatal. Biasanya, pihak ketiga yang bertindak sebagai pemain pengganti adalah negara kecil, namun kadang juga bisa nonstate actors yang dapat berupa LSM, ormas, kelompok masyarakat, atau perorangan.

Melalui perang proxy ini, tidak dapat dikenali dengan jelas siapa kawan dan siapa lawan karena musuh mengendalikan nonstate actors dari jauh. Melalui perang proxy ini, tidak dapat dikenali dengan jelas siapa kawan dan siapa lawan karena musuh mengendalikan nonstate actors dari jauh. Proxy war telah berlangsung di Indonesia dalam bermacam bentuk, seperti gerakan separatis dan lain-lain dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Para aparatur pemerintahan hendaknya menjadi tokoh dan contoh dilingkungan masing-masing dengan memberikan ketauladanan. Prinsip hidp hadir menjadi bagian dari solusi dan sebaliknya tidak menjadi beban ataupun permasalahan. 

Seperti contoh Panglima Besar Jenderal Soedirman yang memberikan teladan dengan selalu berbuat Terbaik, Berani, Tulus dan Ikhlas.

Komunikasi aktif terjadi dalam kegiatan ini, karena para peserta sangat mengapresiasi materi yang disampaikan oleh Pangdam Jaya. Turut hadir dalam kegiatan ini Bupati Tangerang, Walikota Tangerang, Para Kepala SKPD, Gubernur Banten diwakili asisten 1, Dandim 0506/Tgr beserta jajaran dan Kapolres Tangerang beserta jajaran.[rel]

News Feed