oleh

Panglima TNI Buka Program TNI Mendengar

 
OKEBUNG |
Setiap orang normal pasti bisa mendengar tetapi mendengar menjadi sulit ketika seseorang hanya mau didengar dan tidak mau mendengar serta membuka ruang dalam diri kita untuk memberikan kepada orang lain menyampaikan apa yang dipikirkannya. 

Masalah mendengar dan didengar bukanlah di telinga tetapi adanya di hati.
DSC_6388
Demikian dikatakan Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko ketika membuka kegiatan “Program TNI Mendengar” tahun 2015 dengan tema “Ketahanan di Bidang Energi dengan Berbagai Permasalahan dan Solusinya”, di Aula Gatot Subroto, Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur(12/03/2015).
DSC_6511
 
Lebih lanjut Jenderal TNI Moeldoko menyampaikan bahwa, hal yang sangat sulit dari mendengar adalah ketika proses selanjutnya hanya berhenti pada mendengar belaka. Orang mengerti apa yag didengar belum tentu memahaminya . Pemahaman memang memerlukan kerja yang lebih dari seorang manusia selain melibatkan kecerdasan berpikir juga melibatkan aspek kepribadian yang lain dan orang yang telah melewati proses pemahaman belum tentu juga mampu berempati dengan apa yang telah dipahaminya. DSC_6521

“Empati membutuhkan kepekaan dan kecerdasan emosi untuk berada di pihak lain tanpa terjerumus di dalamnya dan yang ber-empatipun belum tentu juga  mampu untuk melakukan aksi dan tindakan yang membutuhkan kemampuan yang lain yang lebih dari sekedar empati”, ujarnya.DSC_6456
 
Sementara itu dalam pemaparannya Dr. Abdul Muin (Pakar Migas) selaku narasumber, terkait kelangkaan sumber energi di Indonesia mengatakan bahwa faktor fundamental sebagai penyebab mengapa terjadi kondisi krisis Migas di Indonesia antara lain pertama, selama beberapa dekade ini Indonesia tidak memiliki Kebijakan Pengelolaan Energi Strategis yang komprehensif dan terpadu; kedua, tidak adanya suatu Perencanaan Jangka Panjang yang memadai, workable, konsisten berkelanjutan dan berimbang dengan kepentingan publik lainnya.

Ketiga, kebijakan dari berbagai departemen masih bersifat sektoral, terlalu berorientasi kepada target jangka pendek, tumpang tindih dan lemah koordinasinya; keempat, pengelolaan pelistrikan yang relatif parah dimana pengadaan pembangkit listrik di masa lalu dominan berbasiskan energi fosil yang “murah”

Kelima, kebijakan untuk menyiapkan “Spare Capacity” yang memadai untuk mengamankan kebutuhan minyak dan gas untuk domestik dalam situasi “emergency” masih terabaikan; keenam,  upaya penghematan/efisiensi konsumsi energi, terutama BBM belum tersentuh secara jelas; ketujuh, pengelolaan hasil/revenue dari sumber energi Migas cenderung berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan rutin belanja negara (APBN), sehingga alokasi dana bagi pengembangan infrastruktur dan kegiatan eksplorasi relatif terabaikan cukup lama dan kedelapan, kebijakan fiskal juga cenderung untuk lebih mengoptimalkan penerimaan negara (pajak) secara sektoral dalam jangka pendek, sehingga tidak merangsang (kontra produktif) bagi pengembangan energi alternatif jangka panjang yang berkesinambungan.
 
Selanjutnya mengenai kegagalan kita dalam mengelola sumber daya alam, menurut Dr. Abdul Muin mengutip dalam World Petroleum Congress tahun 2008 adalah disebabkan oleh: korupsi, buruknya pengelolaan hasil penerimaan dari Migas atau dikenal sebagai “Dutch Disease” serta tidak adanya azas pemerataan dan keadilan. 

Terkait dengan tantangan, pemerintah mendatang di sektor energi adalah  pasokan minyak bumi & BBM yang defisit, pasokan gas domestik yang terus meningkat juga akan terancam, kapasitas kilang penghasil BBM stagnan, beban subsidi BBM dan listrik yang terus meningkat, upaya diversifikasi dan effisiensi BBM tersandera kebijakan subsidi BBM & listrik, kondisi sektor listrik sudah “lampu merah”.

Sementara tantangan utama tata pengelolaan energi dan ketahanan energi di Indonesia saat ini adalah dinamika tata kelola politik & pemerintahan kedepan, kualitas lembaga/institusi yang semakin menurun, sistim multi partai (konflik kepentingan meningkat), otonomi daerah (high cost economy), akselerasi pengurasan SDA, kepastian hokum, perencanaan, sistim pengendalian dan  pengawasan lemah.
 
Kemudian untuk mengantisipasi krisis Migas kedepan, Dr. Abdul Muin membagi dalam jangka pendek-menengah, yaitu: mengamankan proyek-proyek strategis Migas On-Going?, mendorong Pertamina untuk merealisasikan potensi cadangan yang dimilikinya, optimalisasi pengelolaan sisa cadangan Migas existing, akuisisi ladang Migas potensial overseas (khususnya OPEC), memperbaiki tata kelola bisnis gas yang masih Timpang, optimalisasi koordinasi stake holder yang terkait dalam menangani kendala-kendala eksternal, penataan secara menyeluruh (Organisasi & Tata Kelola Proses Bisnis Migas) SKKMigas, ESDM, dan BUMN terkait.

Jangka menengah-panjang, yaitu: studi dan evaluasi prospek dari cekungan-cekungan frontier yang belum di eksplorasi, rangsangan kebijakan agar para investor Migas mau melakukan eksplorasi di wilayah/cekungan baru serta kegiatan eksploitasi lanjut, pengembangan potensi sumber daya non-konvensional, pengembangan energi alternatif secara lebih serius dan upaya efisiensi energi harus ditangani dengan koordinasi yang maksimal guna menahan laju konsumsi Migas kedepan.
 
Selanjutnya Panglima TNI mengajak seluruh para Perwira yang hadir menuju kearah paradigma baru dalam berkomunikasi. Paradigma lama yang dianut oleh TNI adalah lebih senang memberikan direction satu arah dan sulit mendengarkan orang lain, oleh karenanya harus membangun untuk lebih banyak mendengar  dan banyak beraksi. Paradigma kedua bahwa komunikasi dan informasi sekarang tidak bisa dikendalikan, tidak seperti jaman dulu yang bisa diatur-atur.
 
Program TNI Mendengar Tahun 2015 diikuti 200 orang Pamen terdiri dari 45 Pamen dari TNI AD, 40 Pamen TNI AL, 30 Pamen TNI AU, dan 85 Pamen dari Balakpus Mabes TNI serta penanggap berjumlah 17 orang, antara lain; Bapak Gede Pradnyana (Sekjen SKK Migas), Bapak Dirgo D. Purwo, Prof. Bambang B,Bapak Ujang Kuswara (Pembina YPP), dan Ibu Maria (Perusahaan Oil & Gas).  

Kegiatan ini juga merupakan langkah untuk mempererat hubungan silaturahmi antara TNI dengan seluruh elemen bangsa dan sebagai upaya institusi TNI memberikan apresiasi serta pembekalan pentingnya pengetahuan tentang kondisi dan peranan sumber energi serta kebutuhan energi dalam mendukung ketahanan nasional saat ini.
 
Adapun tujuan dilaksanakan kegiatan tersebut adalah memberikan pemahaman dan pandangan kepada para Pamen dan Pati TNI agar dapat membantu dalam aplikasi pekerjaan sesuai dengan tugas pokok masing-masing dalam mendukung program pemerintah.  Sasaran penyelenggaraan Program TNI Mendengar Tahun 2015 adalah tergugahnya daya inspiratif dan konspiratif para Pamen dan Pati TNI di bidang energi serta mampu memberikan kontribusi yang konkrit kepada pemerintah dan solusi yang terbaik dalam menghadapi kelangkaan energi yang sedang dihadapi bangsa Indonesia dalam mengatasi kelangkaan energi untuk masa yang akan datang.
 
Kegiatan yang dipandu oleh moderator Bapak Sukardi Rinakit dan dimeriahkan oleh  penyanyi keroncong/seniwati Endah Laras dari Solo, Jawa Tengah juga dihadiri oleh Kasum TNI Marsdya TNI Dede Rusamsi, S.E., M.M., Koorsahli Panglima TNI Mayjen TNI Wisnu Bawa Tenaya, para Asisten Panglima TNI, dan Kapuspen TNI Mayjen TNI M.Fuad Basya.[Rel\Puspen TNI]
 
Foto] Puspen TNI

News Feed