oleh

Pabrik Pengolahan Sisa Kulit Sepatu Jadi Makanan Digerebek Polisi

OKEBUNG|
Ada-ada saja modus pelaku kejahatan sekarang ini mencari uang.Ada yang melakukan aksi kejahatan langsung dijalanan,ada yang menjual narkoba.dan macamlah modusnya.Namun,lain halnya terjadi di Cirebon.

Dikota tersebut,sebuah pabrik pengolahan sisa kulit sepatu yang berada di kawasan Kecamatan Tengahtani, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat digerebek petugas Polres Cirebon Kota, Kamis (04/09/2014),lantaran pabrik tersebut mengolah sisa kulit menjadi bahan makanan seperti krecek dan sate dan hasil produksinya dikirim ke pasar-pasar tradisional di Cirebon, termasuk Pasar Pasalaran, Kecamatan Plered.
 
Dalam penggerebekan tersebut,petuga polisi mengamankan pemilik pabrik, ES (57) dan menemukan sekira 1 ton kulit bekas. Bahan baku krecek dan sate yang digunakan ES berasal dari bekas sisa kulit bahan membuat sepatu dan jaket yang diolah secara kimia.

Informasi diperoleh menyebutkan bahwa pabrik milik ES termasuk industri rumahan (home industri) yang belakangan diketahui tak berizin.ES menggunakan bahan berbahaya seperti kapur dan tawas untuk mengolah bahan-bahan kulit tersebut. Dalam sehari, dia mampu memproduksi 50 kilogram krecek.
 
Kasat Reskrim Polres Cirebon Kota, AKP Hidayatullah, menjelaskan, kulit bekas yang diolah ES dipasok dari salah satu gudang kulit berskala besar di Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon.
 
“Kulit yang ada pada gudang Arjawinangun itu sendiri dipasok dari Surabaya. Pabrik di Surabaya memperoleh barang dari Garut, Tasikmalaya, maupun Sidoarjo,” demikian dilansir okezone.com.
 
Terkait pengolahan, kulit mentah bekas pembuatan sepatu dan jaket itu dibersihkan terlebih dulu sebelum dikeringkan dengan cara dijemur dan lembaran kulit tersebut kemudian disangrai menggunakan pasir, direbus, lalu dipotong-potong.
 
Kemudian,potongan kulit itu diawetkan menggunakan garam dan kapur. Kulit yang diawetkan menggunakan garam hasil akhirnya berwarna coklat, sedangkan yang diawetkan dengan kapur berwarna putih. Untuk menghilangkan licin pada kulit, ES menggunakan tawas. Padahal, tawas bukan bahan yang layak digunakan untuk makanan, melainkan untuk menjernihkan air, membuat kosmetik, dan bahan anti-api.
 
Menurut Hidayatullah, ES membeli sisa kulit dari Arjawinangun seharga Rp45 ribu per kilogram. Hasil olahannya menghasilkan kulit seberat tiga kilogram. Saat dijual ke pasar, ES membanderol kulit olahannya itu Rp80 ribu per kilogram.
 
“Pabrik pengolahan yang dijalankan ES sudah beroperasi tahunan dan ternyata tak berizin,” ujarnya.
 
Temuan itu pun mengejutkan warga, terutama yang menyukai krecek. Sejumlah warga kini mengaku khawatir. Krecek sendiri biasanya dijadikan lauk untuk makan dan tak sedikit warung makan yang menjualnya.(koran SI) (okz) (net)

Foto:ilustrasi/

News Feed