oleh

Ops Simpatik 2015 di Wilayah Poldasu 62 Orang Nyawa Melayang

OKEBUNG|
Selama 21 hari digelarnya Operasi (Ops) Simpatik-Toba 2015 di wilayah hukum Polda Sumut (Poldasu) tercatat 62 orang tewas akibat kecelakaan lalu lintas (Laka Lantas). Jumlah korban meninggal dunia terbanyak berada di Satuan Wilayah (Satwil) Polresta Medan dengan 9 orang korban.

Kabid Humas Poldasu, Kombes Pol Helfi Assegaf melalui Kasubbid Penmas, AKBP MP Nainggolang dalam keterangannya Jumat (24/04/2015mengatakan, hasil akhir Ops Simpatik-Toba 2015 yang paling terbanyak terlibat laka lantas adalah sepeda motor yaitu sebanyak 252 unit hal ini berdasarkan data yang ada mengalami penurunan jika dibandingkan pada tahun sebelumnya yang berjumlah 282 unit.

Sedangkan selain sepeda motor kedaraan yang juga terlibat Laka Lantas yaitu mobil penumpang sebanyak 69 unit, bus sebanyak 9 unit, mobil barang 47 unit, kendaraan khusus 1 unit dan kendaraan tidak bermotor 5 unit,”sebutnya

Lebih lanjut, MP Nainggolan menyebukan pekerjaan atau profesi pelaku pelanggaran lalu lintas didominasi oleh karyawan swasta sebanyak 5.541 orang.dan  disusul pelajar/mahasiswa dengan angka 1.596 orang yang melakukan pelanggaran.

Pegawai Negeri Sipil (PNS) juga masih ada yang melakukan pelanggaran lalu lintas dengan jumlah 572 orang dan anggota TNI hanya 2 orang saja.

Kerugian materil selama pelaksanaa Ops Simpatik 2015 mencapai Rp 327.450.000. Jumlah ini sambungnya mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai Rp 497.970.00 atau menurun sekira Rp 170.520.000.

Selain itu, lanjut MP Nainggolan, surat tilang yang dikeluarkan untuk tahun ini sebanyak 8.835 dan teguran sebanyak 35.653 perkara. Untuk teguran mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebanyak 3.123 perkara.

“Ops Simpatik-Toba 2015 yang dilaksanakan selama 21 hari di seluruh wilayah Sumut mengedepankan kegiatan preemtif melalui penyuluhan dan pelatihan lalu lintas, serta kegiatan preventif melalui pengaturan, penjagaan dan patroli lalu lintas juga didukung dengan kegiatan represif melalui teguran simpatik dan penegakan hukum guna mewujudkan polisi sebagai penggerak revolusi mental dan pelopor tertib sosial di ruang publik untuk meningkatkan kesadaran dan kepatuhan hukum masyarakat di bidang Kamseltibcar Lantas,”pungkasnya  (el)
 
Foto|dok.okebung\

News Feed