oleh

Nyaru Petugas KPK,Oknum Wartawan Dibekuk Polisi

OKEBUNG |
Menyaru sebagai anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),seorang wartawan sebuah surat kabar dibekuk aparat Kepolisian Resor Kota (Polresta) Mataram, Nusa Tenggara Barat, Kamis (25 /09/2014).Oknum wartawan ini dilaporkan menipu warga hingga puluhan juta rupiah dalam perkara jual-beli mobil.

Oknum wartawan itu adalah VA (34 tahun), warga Tuban, Jawa Timur, yang telah sepuluh tahun bermukim di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Ia mengaku berprofesi sebagai wartawan surat kabar JM,yang berbasis di Jawa Timur.

Menurut keterangan polisi,pelaku awalnya membeli mobil Suzuki Ayla secara kredit pada Juli 2014. Ia baru membayar cicilan senilai total Rp15 juta. Mobil itu kemudian dijual kembali secara tunai seharga Rp80 juta kepada seorang bernama Karyadi.
Pelaku VA mengaku petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk meyakinkan Karyadi bahwa mobil tersebut layak dibeli. VA bahkan menunjukkan tanda pengenal petugas KPK yang telah ia buat sendiri sebelumnya.

“Berbekal id card KPK itu, korbannya percaya saja. Ketika dimintai BPKB (Buku Pemilik Kendaraan Bermotor) oleh korban, tersangka berdalih masih dalam proses di kantor Samsat Mataram,” kata Kepala Sub Bagian Hubungan Masyarakat Polresta Mataram, AKP Wayan Suteja.

Setelah diperiksa, ditemukan sejumlah catatan penipuan dari beberapa laporan Kepolisian yang mengarah pada tersangka VA. Di antaranya, VA kerap mengaku sebagi wartawan, kadang mengaku pengacara, di lain kesempatan mengaku petugas KPK.

Setiap mengaku sebagai pengacara, VA menerapkan modus jual-beli tanah. Ia mendatangi pemilik tanah yang diduga bermasalah, kemudian ditawarkan penyelesaian dengan meminta bayaran jasa hingga belasan juta rupiah.

Saat disergap di rumahnya di komplek perumahan elite Resident Park Selagalas, Mataram, Polisi menemukan tiga tanda pengenal yang berbeda-beda, yakni tanda pengenal wartawan, tanda pengenal petugas KPK, dan tanda pengenal anggota organisasi pengacara. 

Polisi juga menyita dokumen sertifikat tanah dan belasan stempel beragam instansi penegakan hukum dan dinas yang diduga dipalsukan tersangka VA. “Salah satunya adalah stempel Mahkamah Agung,” kata Wayan Suteja.

VA dijerat Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946, pasal 378 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang penipuan dengan ancaman lima tahun penjara.(net/dna)

Foto :Ilustrasi

News Feed