oleh

Nipu Pengacara,Kapolri Diminta Tindak Tegas AKBP AR Indarto

OKEBUNG|
Kasus penipuan uang sebesar Rp 250 Juta yang dilakukan oknum perwira menengah (Pamen),Polri,AKBP Abdul Rahman Indarto terhadap korbannya seorang pengacara berbuntut panjang.

Pasalnya,korban,Maysarah Nasution (35) warga Jalan Eka Warni, Gang Keluarga No.18-B, Lingkungan XII, Kelurahan Gedung Johor, Kecamatan Medan Johor tidak tinggal diam dan terus melanjutkan kasus tersebut hingga Kapolri,Komisi III DPR RI dan Presiden Joko Widodo (Joko Widodo)

“Saya minta kepada Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti dan Komisi III DPR RI untuk bertindak atas perbuatan yang dilakukan AKBP Abdul Rahman Indarto yang telah menipu uang saya itu.Dia telah memalukan Korps Bhayangkara, harus ditindak dan diproses hukum,”pinta korban.

Disebutkannya,yang seharusnya dia (AKBP AR Indarto,red)sebagai penegak hukum.Namun,perwira tamatan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 95 ini malah melanggar hukum.

“Masa penegak hukum kelakuannya seperti penjahat begitu.Gaak pantas dan memalukan sekali kelakuannya menipu warga sipil seperti saya ini.Apalagi saya seorang wanita,”keluhnya.

Masih menurut korban bahwa dirinya juga minta perlindungan diri kepada Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti.Karena sejak melaporkan kasus penipuan menimpa dirinya selalu diikuti seseorang terus dan selalu di Short Massage System (SMS) oleh pelaku.

“Saya seorang wanita yang lemah dan teraniaya sebagai korban penipuan selalu diikuti seseorang sampai saat ini.Selai itu saya juga sering di SMS pelaku yang isinya gak-gak aja.Mohon perlindungannya Pak Kapolri.Nyawa saya terancam dan saya juga sudah jadi korban penipuan si Indarto itu,”ungkapnya wanita yang berfropesi sebagai pengacara di Biro Bantuan Hukum (BBH) DPD PDIP Sumut sejak tahun 2007 ini.

Diceritakannya bahwa penipuan uang sebesar Rp 250 juta secara bertahap yang dilakukan AKBP AR Indarto itu bermula disaat korban,Maysarah Nasution (35) warga Jalan Eka Warni, Gang Keluarga No.18-B, Lingkungan XII, Kelurahan Gedung Johor, Kecamatan Medan Johor berkenalan dengan AKBP Indarto yang saat itu menjabat Kapolres Blitar disuatu tempat.

Awal perkenalan dengan korban yang juga pengacara tersebut ternyata dimanfaatkan oknum perwira Polri berwajah tampan tersebut.Dengan segala modus dan bujuk rayu akhirnya korban pun terpedaya dengan omongan bual dan janji manis pria yang saat ini bertugas di Badan Narkotika Nasional (BNN) Pusat itu.

Hingga pada 05 Oktober 2013,
AKBP AR Indarto pertama kali meminjam uang korban sebesar Rp 6 Juta dengan alasan mau membeli lembu untuk ‘Tahlillan’ abang kandungnya yang sudah meninggal. 

“Pertama dia minjam uang Rp 6 Juta dengan alasan untuk beli lembu buatTahlillan abangnya yang meninggal. Karena merasa percaya,dan tak mungkin seorang Kapolres berbohong,lantas saya pun  memberikan uang tersebut melalui via transfer menggunakan Bank Mandiri,” ungkap wanita cantik berkerudung ini.

Selanjutnya,kata korban,Indarto terus meminjam uang dengan berbagai alasan bahwa selama menjabat Kapolres Blitar tidak ada uang masuk.

“Dia minjam lagi dengan alasan
katanya jadi Kapolres Blitar tidak ada uang masuk jadi dia minta tolong sama saya agar meminjamkan uang untuk keperluan di Blitar. Saya pun kembali mentransfer uang ke rekening BRI atas nama Lina mantan istrinya yang dipegangnya,” ujar Maysarah lagi.
 
Hingga akhirnya total uang yang dipinjam AKBP AR Indarto
mencapai Rp 250 Juta.Karena ada keperluan,lantas korban pun menghubungi oknum pamen Polri tersebut melalui ponselnya untuk meminta kembali uang yang dipinjam AKBP AR Indarto.

“Saat saya tagih,dia (AKBP AR Indarto)mengatakan bahwa uangnya akan dikembalikan, jika tanahnya yang di Blitar sudah laku terjual,”jelas korban.

Menerima janji manis oknum perwira tersebut,lantas korban tetap bersabar terus hingga akhirnya korban pun hilang kesabarannya dan melaporkan oknum perwira tersebut ke Divisi Propam Mabes Polri pada, 25 September 2014 dengan nomor laporan : LP/ 170/ IX/ 2014/ R / 1049-B/ IX/ 2014/ Div Propam/ 29-9-2014. Usai membuat laporan tersebut, korban langsung pulang ke Kota Medan.

Kurun waktu tiga bulan tak mendapat jawaban dari hasil laporan di Div Propam  Mabes Polri, korban pun mendatangi Mapolda Sumut untuk membuat laporan.

“Tiga bulan tak ada perkembangan hasil laporan saya,lantas saya mendatangi Mapoldasu. Usai membuat laporan,saya pun pulang dan menunggu hasilnya.Namun hingga saat ini laporan saya tak ada kepastian juga dan oknum tersebut tidak ditindak juga.Memalukan kali kelakuan dia itu,sudah minta tolong minjam uang,sekarang payah dihubungi sekarang. HP-nya pun uda nggak aktif. Mau gimana, saya menghubunginya. Kemarin sempat, dia SMS saya, dan dia pun bilang ingin meminjam uang saya lagi,dan pas saya telepon, nomornya sudah tidak aktif,” kesal wanita yang berfropesi sebagai pengacara ini sembari menunjukan bukti surat laporannya. [admin]

Teks Foto |korban sambil memang surat laporannya\ist 

.
 
 
 

News Feed