oleh

Langgar Hak Normatif Pekerja,3 Perusahaan di Deliserdang Dilapor ke Poldasu

OKEBUNG|
Ratusan buruh yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) dan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia, berunjuk rasa ke Mapolda Sumatera Utara, Rabu (25/11/2014) pagi.

Mereka menuntut Polda Sumatera Utara untuk menangkap Pengusaha PT Karunia Makmur, PT Asia Raya Foundry dan PT Putra Sejahtera Mandiri Vulkanisir yang mereka anggap telah melanggar hak normative buruh. Bahkan, disebut pendemo kalau pelanggaran yang mereka anggap dilakukan ketiga perusahaan tersebut, sudah memenuhi azas maksimum remidium.

” Kalau pengusaha yang membuat laporan, cepat sekali Polisi menindak lanjutinya. Tapi kalau kami yang membuat laporan, seakan diabaikan.

Seperti yang dialami rekan kami beberapa waktu lalu, hanya gara-gara dia meminta slip gaji, dia langsung dilaporkan perusahaan ke Polsek Tanjung Morawa, dengan tuduhan pencurian uang perusahaan sebesar Rp50 juta, ” ungkap pendemo dari luar gerbang 3 Mapoldasu.

Usai berorasi, seratusan buruh itu langsung meninggalkan Mapoldasu, tanpa menginjakkan kaki lagi ke halaman Mapoldasu.

Secara serentak mereka bergerak menuju kantor Gubernur Sumatera Utara, untuk kembali berdemonstrasi, menuntut kenaikan UMP Sumut, UMK Medan, UMK Deliserdang dan UMK Serdang Bedagai, serta menolak kenaikkan harga BBM.

Begitu juga dengan menyertakan seluruh buruh dan pekerja di Sumatera Utara, sebagai peserta BPJS yang juga harus ditingkatkan pelayanannya.

” Mari kawan-kawan, kita bergerak ke kantor Gubernur Sumatera Utara, untuk menyampaikan tuntutan kita. Biat perwakilan kita, 5 orang di sini, untuk membuat laporan, ” ungkap pendemo sembari membubarkan diri.

Sementara itu, perwakilan pendemo yang dipimpin Ketua Konsulat Cabang FSPMI Deliserdang, Willi Agus Utomo terlihat memasuki gedung SPKT Poldasu, untuk membuat laporan.

Dikatakannya, laporan tersebut terkait pelanggaran undang-undang tenaga kerja yang diduga dilakukan PT Karunia Makmur, PT Asia Raya Foundry dan PT Putra Sejahtera Mandiri Vulkanisir.

Dikatakan Willi, hal itu berdasarkan gaji yang diterima masing-masing perusahaan tersebut sebesar Rp1,8 juta, tidak sesuai peraturan. Disebutnya, kejadian itu sudah berlangsung selama 1 tahun.

” Laporan kita sudah diterima dengan laporan nomor STTLP/1328/XI/2014/SPKT ‘III’. Besok, kita datang lagi untuk melaporkan PT Karunia Makmur. Sementara untuk PT Asia Raya Foundry, sudah kami laporkan setahun lalu, namun prosesnya tidak jelas, ” ungkap Willi.

Saat disinggung soal kasus yang menjerat Herman, dikatakan Willi kalau besok akan dilakukan gelar perkara di Polsek Tanjung Morawa. Namun, Willi mengaku kecewa dan mengecam status tersangka yang ditetapkan Polsek Tanjung Morawa pada Herman. Disebutnya, pihaknya akan terus memantau proses hukum yang menjerat rekan mereka tersebut, agar sesuai hukum yang berlaku. (elin)

News Feed