oleh

Komnas HAM :Posisi Kepala BIN Harus Orang Dekat Presiden

OKEBUNG|
Presiden Joko Widodo diminta berhati-hati memilih Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) yang baru pengganti Letjen (Purn)Marciano Norman.

Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Natalius Pigai, menyarankan agar Kepala BIN dijabat oleh orang-orang dekat dengan presiden.

“Posisi BIN itu sebaiknya ditentukan Jokowi sendiri. Yang memakai presiden, karena itu tidak boleh ada orang lain memaksakan,” kata Pigai kepada wartawan baru-baru ini.

Menurut dia, Kepala BIN adalah jantungnya negara yang menjaga keutuhan negara, Pancasila dan UUD. Karena itu dia mengharapkan Jokowi segera mengumumkan orang yang mengisi jabatan Kepala BIN agar lembaga intelijen itu segera bekerja.

Namun, dia mengkritik munculnya dua nama, Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), Sutiyoso, dan mantan Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan), Syafrie Syamsuddin.

“Saya tidak meragukan kemampuan keduanya, namun menurut saya Sutiyoso adalah presentasi parpolnya, karena komunitas partainya yang juga banyak catatan negatif. Syafrie Syamsuddin diketahui adalah orang dekat Prabowo, jadi enggak bagus,” tegasnya.

Sejauh ini ada beberapa nama tokoh dari militer dan sipil yang diperbincangkan untuk menguisi jabatan Kepala BIN. Salah satunya, Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) As’ad Said Ali.

Pada Jumat lalu, mantan Wakil Kepala BIN selama 9 tahun itu sempat dipanggil Presiden Jokowi ke Istana Merdeka. As’ad saat itu mengaku diajak Presiden berbincang mengenai keamanan dan ketertiban serta dunia intelijen negara. Setelah itu spekulasi bahwa ia akan dipilih sebagai calon Kepala BIN kian kuat. (rmol\net)
Foto:presiden Jokowi\net\

News Feed