oleh

Komisi VII Bahas Krisis Gas dan Listrik Sumut

 

#  Plt Gubsu : Percuma Dorong Investasi Kalau Harga Gas Mahal

Buanapos-MEDAN,  Plt Gubsu Sumut H T Erry Nuradi meminta pemerintah pusat bisa menurunkan harga gas industri di Sumut sehinga dibawah US$10 per juta British Thermal Unit (MMBTU).  “Gas urat nadi pertumbuhan ekonomi Sumut, harga gas mahal industri juga tidak miliki daya saing,” ujar Plt Gubsu di hadapan anggota Komisi VII DPR RI di Kantor Gubsu, Senin (21/3).

Pertemuan dalam rangka reses masa persidangan III Tahun Sidang 2015-2016, Komisi VII DPR RI Bidang Energi dan Sumber Daya Minerap, Riset dan Teknologu dan Diktu, Lingkungan Hidup dan Kehutana di Sumut yang berlangsung pada 20-23 Maret 2016.

Hadir Ketua Komisi VII DPR RI Gus Irawan Pasaribu yang didampingi anggota  yaitu Donny Maryadi Oekon (PDIP), Yulian Gunhar (PDIP), Adian Yunus Yusak Napitupulu (PDIP), Eni Maulani Saragih (P.Golkar), Gito Ganinduto (P.Golkar), Satya Widya Yudha (P.Golkar), Ramson Siagian (P.Gerindra), Bambang Haryadi (P.Gerindra), Adji Farida Padmo Ardans (P.Demokrat), Andriyanto Johan Syah (PAN), H Agus Sulistyono (PKB) dan  H Isqan Qolba Lubis (PKB). Dalam kesempatan itu, hadir juga unsure DPRD Sumut, Dirjen Migas, Dirjen Ketenagalistrikan, Dirjen Minerba, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Kementerian Ristek dan Dikti, PT Pertamina, PT PLN, PT PGN, PT Inalum, BPH Migas dan SKK Migaa serta intansi terkait.

Erry dalam kesempatan itu menekankan bahwa percuma saja pemerintah mendorong investasi seperti membangun Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei dan Kawasan Strategis Nasoional  seperti Danau Toba, dan KSN lainnya apabila persolan enrgi gas dan listrik masih menjadi kendala. “Kita berharap ada jalan keluarnya, karena persoalan ini sudah begitu lama,” ujar Erry.

Eni Maulani Saragih dari P.Golkar mengungkapkan faktanya harga gas di Sumut pernah mencapai US$ 14 MMBTU, kakaupun sekarang harga sudah berkurang berkisar US$ 12 MMBTU namun masih terhitung sangat mahal. “Di Jatim US$ 7,9 MMBTU. Mahal karena banyaknya mata rantai, harga gas mahal karena PGN memonopoli,”ujarnya . Fasilitas strategis yang dikuasai PGN menurutnya harus bisa diakses terbuka. “Ini yang  membuat harga gas mahal . Padahal kan PGN  bukan BUMN murni, 40%  saham dikuasiai swasta,” ujarnya.

Sementara itu, Satria Yudha mengungkapkan Dirjen Migas memegang kunci utama untuk bisa mengkombinasikan peraturan negara dengan melihat aspirasi pasar. Kita harus bisa memilih, mengirit sedikit pendapataan negara dari sektor migas, namun pertumbuhan ekonomi bisa tinggi atau sebaliknya,” katanya.

Gus Irawan  mengungkapkan persoalan pasokan gas sudah menjadi masalah sejak lama di Sumut menyebabkan banyak industry yang mati. “Pernah dialokasikan dana Rp 3 T untuk membangun kilang gas di Sumut namun dipindahkan ke Lampung dan kini kilang tersebut tidak berfungsi,” katanya. Hari ini, lanjutnya, Sumut masih mendapat pasokan gas namun maih menjadi yang termahal di Indonesia. “Sumut kan NKRi juga, namun harganya jauh lebih mahal,” ujar Gus.

Pihaknya akan mendorong kebijakan penurunan harga gas bagi industri di Sumut.  “Kami masih akan membahas persoalan ini dengan pihak terkait malam ini dan besok. Pembahasan di Sumut nantinya melahirkan rekomendasi bagi pemerintah,” kata Gus.

Cahyadi dari PGN mengungkapkan kebutuhan gas industri, komersial dan rumah tangga di Sumut mencapai 20MMscfd per hari, sementara pasokan gas hanya 6 MMscfd sehingga terdapat deficit 14 MMscfd. “Harga gas per hari ini mencapai US$ 12,22 MMBTU,” katanya.  Pertamina dan PGN serta DIrjen Migas sudah berupaya menurunkan harga gas industri di Sumut, namun memerlukan kebijakan pemerintah. “Masih menunggu kebijakan pemerintah, kalau sudah ada kami siap terapkan. Mohon percepatan agar bisa realisasikan,” kata Cahyadi.

Direktur Gas, Energi Baru dan Terbarukan Pertamina, Yeni Andayani mengatakan sumber gas di SUmut sangat terbatas yang bersumber dari Pangkalan Susu  6 MMscfd , Sumur Benggala 2 MMscfd, dan sebagian diperlukan untuk kebutuhan produksi Pertamina. “Untuk memenuhi kebutuhan perlu sumber lain LNG yang dibeli dan diregasifikasi di Aceh kemudian dibawa ke Belawan. Kami kerjasama dengan PGN,” ujarnya

 

Wartawan Unit Gubsu: Ayu Lubis

News Feed