oleh

Kasus Cabul Dipetieskan Polres Asahan: Juper UPPA ‘Intimidasi’ Keluarga Korban

OKEBUNG|
Terkait kasus pencabulan yang dialami oleh,TRF (14) warga Kecamatan Bp Mandoge,Kab Asahan,Provinsi Sumatera Utara yang dilakukan,Wahid (20) warga Huta Padang Kec.Bp Mandoge Asahan mulai kasak kusuk oknum juru periksa (juper) Polres Asahan yang menangani kasus tersebut setelah munculnya pemberitaan.

Akibatnya,keluarga korban pun diduga mulai menerima intimidasi dari oknum juper UPPA,F Sembiring.

Namun,kedatangan oknum juper tersebut ternyata hanya untuk ‘mengintimidasi’ keluarga korban agar perkara ini tidak muncul kembali dalam pemberitaan.

Menurut keterangan orang tua korban, kalau kedatangan juru periksa dan dua rekannya untuk meminta menandatangani surat pernyataan agar perkara ini tidak boleh ditangani media untuk menindak lanjuti masalah ini.

“Jadi tadi sore datanglah jupernya dengan dua temannya kerumah, dia (juper) minta agar kami nandatangani surat pernyataan kalau kami tidak pernah memberikan kuasa kepada Ema (wartawati mediaonline www .okebung.com) untuk menindak lanjuti kasus ini,” terang ibu korban.

Bahkan permintaan menjurus jadi pemaksaan, lantaran oknum pihak kepolisian diduga terus meneror keluarga korban untuk segera menandatangani pernyataan tersebut.

“Udah sampe dua kali datang kerumah untuk membicarakan agar masalah ini agar tidak diperkeruh oleh pemberitaan media. Padahal Ema itu kan masih keluarga kami, kami memang minta tolong sama dia untuk menuntun masalah ini karena selama ini kasusnya gak ada diproses sama sekali sama Polres Asahan,” kesalnya.

Dalam hal ini,kata ibu korban,pihak kepolisian Polres Asahan tidak mau bekerja atau tidak mau menindak lanjuti masalah ini namun setelah diberitakan pihak kepolisian baru meresponnya. Dan janji yang diberikan oleh juper yang akan menangkap pelaku malah berubah menjadi pemanggilan.

“Kemarin janji jupernya kalau saksinya udah lengkap, pelaku hanya tinggal ditangkap aja, tapi tadi kata jupernya kalau pelaku masih dijadikan saksi dan itupun baru tadi surat pemanggilannya dikirimkan ke pelaku. Berarti selama ini jupernya bohong dan gak pernah kerja,” ketus ibu korban,Kamis (05/03/2015) kepada okebung.com.

Sebelumnya okebung.com yang mencoba mengkonfirmasi kasus ini ke Kanit UPPA Polresta Asahan dan Kapolresta Asahan, via seluler mengenai perkembangan kasus ini, keduanya tidak memberikan jawaban.setelah dikonfirmasi masalah tindakan oknum juper yang diduga mengintimidasi keluarga korban untuk menandatangi surat pernyataan bahwasanya keluarga korban tidak pernah memberi kuasa kepada wartawati bernama Ema Boru Sinaga untuk mengikuti perkembangan kasus tersebut Kanit mengatakan ” Kasus ini masih dalam proses penyidikan “ungkap Kanit.

Ironisnya,setelah munculnya pemberitaan barulah oknum penyidiknya mengeluarkan surat perintah pemanggilan.”Berarti selama tiga bulan ini jelas kasus pencabulan tersebut tak ditangani alias peties ,”ungkap keluarga kesal.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya ,sejak melaporkan kasus pencabulan yang dilakukan,Wahid (20) warga Huta Padang Kecamatan Bp Mandoge 19 Desember 2014 lalu hingga saat ini tak jelas juga alias jalan ditempat,dan baru saat ini dikeluarkan surat pemanggilan.

Diketahui bahwa kejadian pencabulan berawal ketika korban berkenalan dengan Wahid (pelaku) sekitar awal bulan Desember 2014 melalui jejaring sosial Facebook. Setelah dua hari berkenalan, lalu korban dengan pelaku pun janjian bertemu dan selanjutnya keduanya jalan berboncengan dengan mengendarai sepeda motor.

Dan,seminggu kemudian keluarga korban pun curiga dengan perangai korban.Begitu dibujuk akhirnya korban pun menceritakan kalau dirinya telah disetubuhi oleh pelaku.

Bagaikan mendengar petir disiang bolong,mendengar pengakuan korban.Setelah mengetahui apa yang terjadi terhadap anaknya,selanjutnya
orang tua korban mendatangi alamat pelaku untuk meminta pertanggung jawaban.

Namun pelaku malah mengelak dan tidak mengakui perbuatannya. Karena kesal,lantas orang tua korban pun melaporkan kasus ini ke Polres Asahan dengan bukti surat laporan nomor STBL/1200/XII/2014/.

” Kami gak tahu persis awal kejadian itu tapi setahu kami, anak saya berkenalan dengan pelaku melalui handphone. Anak saya mengatakan dua hari kemudian setelah perkenalan sekira pukul 22.00 WIB, pelaku membawa anak kami untuk jalan – jalan dan itu tanpa sepengetahuan kami orang tua korban,” terang ibu korban.

Lanjutnya kalau korban dibawa ke areal perkebunan kelapa sawit dan disitu korban dibujuk lalu disetubuhi.

“Anak kami cuma bilang pelaku membawa anak kami menuju arah perkebunan kelapa sawit naik kereta (sepedamotor)Suzuki Satria F berwarna biru, dan tempat tersebut lumayan jauh dari rumah orang. Diareal kebun itulah anak kami dibujuknya hingga disetubuhinya ,”bebernya.

Sementara itu menurut keterangan teman korban, Anggi (14) bahwa dirinya sempat melihat korban jalan dengan pelaku.

“Aku pernah lihat orang itu (korban dan pelaku) boncengan naik kereta ke arah Kisaran. Tapi aku gak kenal nama laki-lakinya cuma kenal wajahnya aja, dan aku gak tau kalau dia (korban) di bawa ke kebun sawit” terang teman sekelas korban.

Mirisnya UPPA Polres Asahan hanya menerima laporan namun tidak memprosesnya, sampai akhir Januari keluarga korban datang kembali ke UPPA Polresta Asahan untuk menanyakan perkembangan kasusnya kepada pihak kepolisian, namun tidak ada tindak lanjutnya.

Menurut keterangan orang tua korban, kalau juru periksa yang menangani kasus ini yang diketahui bernama, F Sembiring hanya memberikan janji tanpa ada realisasinya. Karena setelah pemeriksaan dua saksi yang diminta untuk dihadirkan pada awal bulan Februari 2015 lalu, hingga saat ini pelaku tidak juga diperiksa padahal sebelumnya juru periksa sudah berjanji bila saksi lengkap akan langsung menangkap pelaku tetapi itu hanya janji.

“Kemarin itu kata jupernya harus hadirkan dua saksi, sekarang saksi udah selesai pelakunya tak juga ditangkap,”keluh ibu korban.

Lanjutnya, bahkan kasus yang sudah berjalan tiga bulan ini seperti tidak mendapat tindak lanjutnya juru periksa hanya terus berjanji untuk menangkap pelaku.

“Janji-janji saja yang kami terima, gak pernah jelas kapan akan ditangkap pelakunya. Bahkan hp jupernya pun kadang gak aktif dan setiap di telepon atau sms gak pernah ada balasan,” kesalnya.

Kemudian salah seorang keluarga korban, Ema (27) pun sempat mencoba menanyakan perkembangan kasus ini kepada Kanit UPPA Polresta Asahan, namun tidak mendapat respon sama sekali.

“Udah capek aku nelepon untuk menanyakan perkembangannya ke Kanit UPPA-nya,tapi gak direspon,”kesalnya.

Ketika dikonfirmasi ke Kapolres Asahan, AKBP Yulmar mengatakan kalau akan mengecek laporan tersebut.”Oke terima kasih, mohon waktu saya cek dahulu,” ujarnya singkat via sms.

Namun hanya janji-janji saja yang diberikan tanpa adanya tindak lanjut. Hal ini pun membuat keluarga korban kecewa dan menyesalkan sikap dari Polres Asahan yang mendiamkan masalah ini.

” Masalah cabul dianggap mainan sama mereka, mereka tidak perduli dengan masyarakat kecil seperti kami, padahal hak kami meminta perlindungan sama mereka tapi di sepelekan oleh mereka, nyesal juga minta tolong sama mereka, bahkan sampai memohon kepimpinan tertinggi pun di abaikan juga” keluhnya seraya mengatakan kasus ini akan dilaporkan ke Kapolda Sumut dan Kapolri di Jakarta.(Em)

Foto |Ilustrasi\

News Feed