oleh

Kapolres Binjai Dilapor Kakek 50 Cucu ke Bid Propam Poldasu

OKEBUNG|
Kapolres Binjai, AKBP Marcelino Sampaw dan salah seorang perwiranya, Iptu Rudi Alfian beserta seorang personel polisi lainnya, Brigadir Jasmin Purba dilaporkan ke Bidang Profesi dan Pengamanan (Bid Propam) Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Utara (Sumut), dengan No.LP /06/II/2015/Bid Propam, tanggal 10 Februari 2015,Selasa (10/02/2015) siang.

Dilaporkan ke Propam Polda Sumut oleh Adalah Legiman Sembiring (70), warga Jalan Samanhudi, Pasar IV, Lingkungan I, Desa Bhakti Karya, Binjai Selatan karena melakukan obral pelor saat penangkapan anak Legiman.

“Masalah ini awalnya waktu polisi-polisi itu datang ke rumah saya, Kamis (05/02/2015) malam, sekitar jam 22.00 wib. Saya masih tidur, saya langsung terbangun. Saya tak tahu apa-apa, katanya orang itu mau nangkap anak saya (Iskandar Sembiring-red). Saya tak tahu masalahnya apa. Saya sempat didorong juga sama polisi itu, mereka mengeluarkan tembakan. Dibilang polisi itu sama saya, awas, awas..! Terus anak saya (Jeni Sembiring-red) mengajak masuk, dan ada tembakan lagi ke bawah (tanah-red). Saya sekarang sakit, tak bisa apa-apa. Saya shock,” ungkap Legiman Sembiring pada wartawan dan mengatakan Brigadir Jasmin Purba sempat menodongnyaa pakai pistol.

Dikatakannya lagi, pada saat itu pula, Iskandar Sembiring juga tak berada di kediamannya. “Tidak ada di rumah saya, dia (Iskandar-red) punya rumah sendiri. Dia di tanah merah, sekitar 3 kilometer dari rumah saya. Kenapa rumah saya yang digerebek dan sampai ada tembakan-tembakan seperti itu?” imbuh kakek yang sudah mempunyai 50 orang cucu ini.

Sementara itu, Deni Surianto (42), anak kelima Legiman yang juga anggota Komisi A DPRD Binjai menuturkan, persoalan penggerebekan yang dilakukan polisi di kediaman orang tuanya itu bermula dari masalah penetapan tersangka Polres Binjai terhadap adiknya, Iskandar Sembiring.
Namun menurutnya, penetapan tersangka tersebut tak beralasan.

“Saya baru datang setelah dengar tembakan empat kali. Penetapan tersangka terhadap Kandar menurut saya tak beralasan, masak masalah galian C sampai ada tersangka dan masuk Daftar Pencarian Orang (DPO)? Kalau jadi tersangka misalnya, adik (Iskandar-red) saya tidak memiliki, beko dan bukan sebagai pemilik galian c. Bukan alasan untuk polisi menjadikan tersangka, mereka juga sempat memberi panggilan pertama kepada Iskandar,” katanya lagi.

Disebutkannya juga, peristiwa penggerebekan tersebut juga tidak sesuai standar yang berlaku.

“Tidak ada surat penangkapan. Harusnya mereka (polisi-red) kan menemui kepala lingkungan (kepling) dulu, lurah dan camat, menunjukkan surat penangkapan. Tapi ini tidak, mereka langsung datang dan meletuskan senjata mereka, dan untuk itu kami datang membuat laporan dengan membawa bukti peluru bekas (kat) yang belum meledak sebagai bukti adanya bahwa ada penembakan yang dilakukan saat itu, ” bebernya lagi.

Hal tersebut dibenarkan Kepling Lingkungan I, Kelurahan Bhakti Karya, Hety Saprida.

“Tidak ada saya dipanggil dan dikasih tahu. Suratnya pun tak ada. Saya baru tahu setelah mendengar suara tembakan. Sebelumnya tak pernah terjadi seperti-seperti ini di kampung kami. Baru inilah kejadian,” kata perempuan berjilbab ini .

Tak jauh berbeda yang disampaikan tetangga sekitar kediaman Legiman Sembiring, Adi Syahputra (35) dan Misno (45) yang turut mendampingi untuk membuat laporan ke Bid Propam Polda Sumut.

Diketahui dalam laporan Legiman Sembiring ke Bid Propam Polda Sumut tersebut menjelaskan, sudah terjadi peristiwa perkara (pelapor dalam hal ini Legiman Sembiring keberatan atas tindakan terlapor, yakni AKBP Marcelino Sampaw, Iptu Rudi Alfian, Brigadir Jasmin Purba dan 30 personil polisi Polres Binjai, yang memasuki halaman rumah pelapor yang berpagar tanpa seizin pelapor selaku pemilik rumah dan melakukan penembakan sebanyak 10 kali ke arah atas dan bawah.

Lebih lanjut keterangan di laporan tersebut menyebutkan, para terlapor tidak mentaati segala peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 huruf f, Peraturan Pemerintah (PP) RI No.2 tahun 2003, yang dilakukan oleh Iptu Rudi Alfian, Brigadir Jasmin Purba dkk, lebih kurang 30 orang personil Polres Binjai.

“Ngerilah kejadian itu saya lihat. Akibat perbuatan mereka beberapa anak – anak ada yang sakit karena merasa ketakutan. Mereka memasuki perkarngan rumah pak Legiman dengan lengkap pakai laras panjang,” sebut Adi Syahputra saksi yang tinggal satu dinding sama rumah pak Legiman.

Sebut Adi, saat kejadian proses penggerebekan tidak ada sedikitpun gejolak mayarakat melakukan perlawanan sedikit. “Masyarakat hanya menonton saja, tidak ada yang melakukan perlawanan pada polisi apalagi katanya melempari mobil polsi itu tidak benar. Saya sendiri menyaksikan dari awal, karena rumah saya pas disamping rumah pak legiman, malah polisi yang melakukan penembakann begitu juga kapolres Binjai juga meletuskan tembakan satu kali,”bebernya.

Sebelumnya Kapolres Binjai, AKBP Marcelino Sampaw yang dikonfirmasi wartawan sempat memberikan pernyataan bernada ancaman. “Anda nanya atau nuduh? Kita semua punya hak hukum yang sama. Bila apa yang anda katakan tidak bisa dibuktikan, akan ada sanksi hukumnya. Tks,” jawab Marcelino via sms, Jum’at (06/02/2015).

Diberitakan sebelumnya, karena tidak berhasil menangkap pelaku galian C, Kapolres Binjai, AKBP Marcelino Sampauw malah “mengumbar” peluru, Kamis (5/2) sekira jam 22.45 wib.

Akibatnya, warga yang bermukim di Dusun 1 Jalan Samanhudi / pasar 4 Kelurahan Bhakti Karya Kecamatan Binjai Selatan merasa resah dan trauma.

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Helfi Assegaf menuturkan, malam itu dipimpin Kanit Jahtanras Polres Binjai Iptu Rudi Lapian bersama Satuan Reskrim, Sabhara dan Intelkam berjumlah 28 personil melakukan penggrebekan di rumah orang tua Iskandar Sembiring Jalan Samanhudi Kelurahan Bhakti Karya Kecamatan Binjai Selatan.

“Iskandar Sembiring merupakan daftar pencarian orang (DPO) Polres Binjai dalam kasus pengelola galian C ilegal dan telah dua kali dipanggil penyidik, namun tidak pernah hadir,” jelas Helfi kepada wartawan, Jumat (6/2).

Semula, beber Helfi, petugas menggerebek kediaman pelaku, namun yang bersangkutan tidak berada di rumah.

Begitu mengetahui keberadaan pelaku di rumah orang tuanya, petugas langsung melakukan penggerebekan. Namun pelaku melarikan diri ke arah belakang rumah orang tuanya sehingga dilakukan pengejaran.

“Namun pelaku tidak tertangkap. Saat pengejaran, personil mengeluarkan tembakan peringatan tapi pelaku tetap melarikan diri,” terang Helfi.

Saat itu, kata Helfi, pelaku malah berteriak hingga membuat warga sekitar (massa) keluar dari rumahnya dan melempari personil dan mobil  Sabhara dan mengambil kunci mobil operasional Reskrim.

Situasi itu membuat Kapolres Binjai dan personil gabungan TNI dan Brimob turun ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk mengamankan situasi.

Helfi menyebutkan, massa tersebut sebagian besar dari anggota Organisasi Kemasyarakat Pemuda (OKP) PP dan karyawan Galian C yang dikelola oleh abang Iskandar Sembiring bernama Acong, Ketua PP.

“Massa PP itu dibantu masyarakat sekitar yang berpihak kepada pelaku,” sebut Helfi.

Menurut dia, kini situasi dan kondisi kamtibmas di TKP sudah terkendali. Petugas masih disiagakan di sekitar TKP untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.

“Saat ini situasi dapat dikendalikan dan personil stan by di TKP sekalian melakukan pencarian terhadap pelaku,” katanya[e

News Feed