oleh

Jaksa Agung: Sebanyak 20-40 Miliar Dollar Pertahun Dibawa ke Luar Negeri

JAKARTA-OKB|
Para pelaku tindak pidana korupsi tidak akan pernah jera atau pun kapok,jika hasil kejahatannya tidak dirampas untuk negara. Dengan demikian tujuannya, untuk menikmati hasil kejahatan menjadi sia-sia.

“Seseorang berani korupsi, jika hasil dari perbuatannya lebih tinggi dari hukumannya yang akan dijalaninya. Sebab itu, banyak pelaku korupsi siap masuk penjara, selama dia dapat hidup makmur dari hasil kejahatannya selepas menjalani penjara,” ujar Jaksa Agung Basrief dalam acara Workshop Masyarakat Hukum Pidana dan Kriminologi Indonesia (Mahupiki), dengan tema Pemulihan Aset Tindak Pidana di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (28/08/2014) melansir poskotanews.com.

Oleh karena itu, lanjut Basrief penegakan hukum dan pemulihan aset merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, sebab para pelakunya sudah mengkalkulasi dan pengamanan hasil kejahatannya.

“Maka penelusuran aset hasil kejahatan menjadi penting, agar upaya memulhkan kerugian yang ditimbulkan, dengan menarik kembali aset uang hasil curian dan mengambalikan ke negara.Walau upaya penelurusan dan pelacakan aset tidak mudah mengingat para pelaku berusaha menyembunyikan an menyamarkan hasil kejahatannya.

Dia menduga setahun tak kurang sebanyak 20 miliar dolar AS sampai 40 miliar AS per-tahun kekayaan negara-negara berkembang dicuri oleh para pelaku atau setara 20 sampai 40 persen jumlah bantuan dialirkan ke negara-negara dunia ketiga, seperti dilansir oleh Bank Dunia (World
Bank).

“Dalam analisanya World Bank juga mengungkapkan aliran aset hasil kejahatan, korupsi dan penggelapan pajak secara lintas negara diperkirakan mencapai satu triliun sampai 1,6 triliun dolar AS per-tahun,” ungkap Basrief.

Dalam kaitan ini, maka kerjasama internasional sangat mendesak dan pengesahan Unitead Natons Convention Againts Corruption (UNCAC) 2003 sebagai Konvensi Anti Korupsi pertama dan berlaku global sangat menggembirakan, sebagai upaya mempersempit ruang gerak pelaku kejahatan.

Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol. Suhardi Alius dalam acara yang sama menambahkan untuk dapat mengejar aset yang sudah dilarikan atau disimpan di manca negara, maka kerjasama internasional secara bilateral atau multilateral hars dilakukan dan dipererat.

Sementara itu,Ketua Umum MAHUPIKI, Prof Romli Atmasasmita menyatakan acara workshop ini bertujuan guna mengoptimalkan kerjasama nasional dan internasional dalam pemulihan aset hasil tindak pidana dan mencari cara efektif dalam menjaga nilai ekonomis dari harta hasil tindak pidana. Serta meningkatkan peran pemidanaan yang efekti dalam memberikan efek jera bagi pelaku tindak pidana. (net)
Foto :Jksa Agung/Net/

News Feed