oleh

Indonesia Ekspor Tekstil Rp 156 Triliun/Tahun, Tapi Bahan Baku Kapas 100% Masih Impor

OKEBUNG|
Negara Republik Indonesia merupakan salah satu pengekspor tekstil dan produk tekstil terbesar di Asia. Namun, belum sepenuhnya bahan baku tekstil diperoleh dari dalam negeri.

Menteri Perindustrian Saleh Husin membenarkan hal tersebut. Menurutnya, ada beberapa permasalahan internal di sektor industri tekstil dan produk tekstil yang harus segera dicarikan jalan keluar. Salah satunya mengenai impor mesin dan bahan baku tekstil.

“Bahan baku kapas, zat warna, dan zat pembantu yang hampir seluruhnya masih harus diimpor. Harus dicarikan jalan keluarnya,” ungkap Saleh ditemui saat peresmian pabrik serat ban PT Indo Kordsa di Citeureup, Kabupaten Bogor, Selasa (06/01/2014)melansir detik.com.

Saleh menuturkan, saat ini mau tidak mau bahan baku tersebut memang harus diimpor. Kalau tidak, maka aktivitas industri yang membutuhkan bahan baku tidak bisa berjalan.

“Kita berupaya agar ke depan impornya ditekan. Kebutuhan kapas itu memang tidak bisa dihindari. Kalau nggak, mana mungkin pabrik bisa berkembang?” jelasnya.

Dihubungi terpisah, Ketua Asosiasi Pertesktilan Indonesia Ade Sudrajat menuturkan, memang ironis Indonesia bisa menghasilkan ekspor belasan miliar dolar setiap tahunnya, namun impor tetap dilakukan.

“Ekspor kita US$ 13 miliar (Rp?156 triliun) , sedangkan impor kita US$ 8 miliar (Rp?96 triliun). Di 2014 itu nggak jauh. Impornya bahan baku,” tutur Ade. ‎

Menurut Ade, dalam jangka pendek impor memang belum bisa terhindarkan. Sebab, ada beberapa bahan baku yang belum bisa diperoleh di Indonesia.

Misalnya kapas sebagai bahan baku pembuat benang atau serat alam yang kemudian diolah menjadi kain, seluruhnya harus diimpor dari Amerika Serikat (AS), Brasil, atau Australia. Di Indonesia, tak banyak petani yang sanggup menanam kapas karena faktor alam.

‎”Di sini tidak cocok, kapas hanya cocok berkembang di negara dengan iklim sub tropis. Jadi tanaman kapas ini perlu air, tapi pada saat hujan itu nggak boleh satu tetes pun‎ air. Di Indonesia sanggup nggak seperti ini, perlu berapa pawang hujan di kebun?” jelas Ade.

Untuk urusan bahan baku serat, lanjut Ade, memang tidak sepenuhnya ‎Indonesia mengimpor. Sebagai substitusi kapas, serat juga bisa dihasilkan dari polyester ataupun feast coast yang terbuat dari bahan kimia sintetis.

‎”Kapas itu serat alam, sedangkan yang lain sintetis. Kapas ini menjadi acuan karena nyaman dipakai,” tutur Ade.

Selain untuk pakaian, serat juga bisa digunakan untuk keperluan industri lain seperti industri ban.(Dtc/Net)

Foto:Ilustrasi/

News Feed