oleh

Hutan Register 8 Simalungun Gundul, Panglima TNI dan Kapolri Harus Turun Tangan

OKEBUNG|
Ratusan hektar Hutan Register 8 Hl 35 Hl 39 Simacik II, Sungai Delno berlokasi di Huta Lama Desa Panribuan, Kecamatan Dolok Silau Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara (Sumut),ludes dirambah orang kuat Simalungun.

“Hutan ini sudah lama dirambah oleh orang yang tidak bertanggungjawab dan saat ini sudah habis dan gundul, bahkan daerah aliran sungai juga sudah ludes sementara pihak penegak hukum dan instansi terkait seakan-akan terkesan ‘tutup mata” melakukan pembiaran,” kata Sakeus Tarigan pengurus Bara JP bagian Lingkungan Hidup

Tarigan menambahkan bahwa pihaknya sudah pernah melaporkan kasus ini ke pihak berwajib dengan No LP : LP/15/XII/2015, tanggal 28 Desember 2013, namun sampai saat ini pihak Kepolisian belum mengambil tindakan tegas, sehingga secara perlahan tapi pasti, hutan Register 8 sebagai paru-paru warga Simalungun ludes.

“Kasuss ini telah dilaporkan,namun sepertinya dalam laporan itu,ada oknum yang diduga bermain ‘patgulipat’ dengan para mafia perambah hutan.Buktinya, kalaulah laporan itu berjalan dan diproses.Tentu dalam kasusini tidak ada yang terlibat,”tegasnya.

Sementara itu,ditempat terpisah juga terjadi perambahan yang mengancam ribuan hektar hutan register, yaitu di lokasi Parhotangan Desa Saran Padang, kecamatan yang sama.Sampai saat ini baru 16 ha yang gasak oleh orang kuat yang diduga dilakukan oknum anggota DPRD Simalungun berinisial EB.

Sejumlah warga Dolok Silau sangat menaruh keberatan atas penghancuran hutan register itu.

“Kalau mereka bebas mengambil kayu hutan, merambah hutan dan menjadi kannya kebun, kenapa kami tidak boleh waktu itu, itu pasti Hutan Register, sebab tahun 2010 kami minta ijin kepada instansi terkait untuk membuka hutan itu, tetapi setelah cek lapangan permohonan kami ditolak, dengan alasan hutan itu termasuk hutan register, ” jelas warga yang tidak mau menyebut namanya menunjukkan protes.

Sementara itu dua orang tukang sinesaw (sinso) di Lokasi Huta Lama Desa Panribuan yang juga tidak mau menyebut namanya mengatakan bahwa mereka menyinso mengambil kayu atas suruhan toke yang berinisial AN.

Saat wartawan konfirmasi ke AN melalui handphone bahwa dirinya mengelak dan dan mengatakan dirinya juga bekerja dan di gaji atas suruhan AG mantan anggota DPRD Simalungun.”Saya disuruh bang,disini saya makan gaji saja yang nyuruh pak Ag,”akunya kepada wartawan.

Menanggapi masalah penggundulan Hutan Register di Kaki Bukit Barisan itu mendapat kecaman keras dari Aktivis Pemerhati Hutan dan Lingkungan Sumatera Bagian Utara (PUTAS),Alam Daulay SH.Ia sangat kecewa atas tindakan oknum yang tidak bertanggung jawab itu, dan kami heran mengapa pihak kepolisian tidak menindak lanjuti laporan masyarakat, dan tidak mengambil tindakan cepat kepada pelaku.

“Sebelum hutan habis luluh lantak,polisi daninstansi terkait harus bertindak secepatnya.’Apa ada setoran kepada pihak terkait’ sehingga sinso bebas meraung-meraung di tengah hutan register itu,” cetus Alam SH yang juga Ketua Umum LSM Gabungan Pemerhati Orang Tertindas Sumatera Utara (Gapotsu).

Disebutkannya bahwa masalah hutan saat ini sangat rentan.Karena,kata dia,apalagi saat ini Indonesia sedang mengalami bencana asap akibat kebakaran lahan dan hutan.

“Saya tegaskan laporan tersebut ditindaklanjuti dan jangan pilih kasih, hal ini perlu di usut tuntas.Jika benar, maka AG harus mempertanggungjawabkan tindakannya di depan hukum dan kepada tukang Sinco agar menghentikan kegiatannya, karena saudara kita itu melanggar UU Kehutanan dengan ancaman mulai 9 tahun penjara,”sebutnya seraya menambahkan bahwa pihaknya akan menyurati Kapolri,Panglima TNI dan Presiden guna menindaklanjuti kasus itu.

Hal senada juga dikatakan H. P. Daulay SP MSI selaku Pembina LSM Pemerhati Social Sumatera Bagian Utara.Dia mengungkapkan keheranannya atas keberanian perambah dan penghacuran hutan register itu.

“Mungkin mereka belum tahu bahwa tindakan mereka bisa mengantar mereka ke penjara dan juga sangat membahayakan warga Simalungun khususnya dan dunia secara umum, karena hutan itu berfungsi multi ganda, selain dari hutan penyangga sumber air, pengendali banjir dan erosi,juga penghasil oksigen dari hasil fotosintesis lalu berubah menjadi sumber Ozon (O-3) di udara merupakan bahan filter sinar panas tenaga surya,”tegasnya.

Lebih jauh Daulay menjelaskan bahwa pengancuran hutan dapat menimbulkan lapisan ozon (penyaring panas sinar matahari) menipis di daerah kutub, bumi semakin panas, lapisan es mencair mengancam tengelamnya bumi tercinta.

“Mungkin negara Indonesia lah yang lebih dulu tenggelam terjadi kiamat lokal, permukaan air laut naik, menelan pulau-pulau dimulai dari pinggir pantai tenggelam.Maka itu dirinya berharap kepada Panglima TNI dan Kapolri turun tangan mengatasi kasus perambah hutan tersebut,” harapnya.

Saat ini,sebutnya,permukaan air laut setiap tahun naik perlahan, mereka yang tinggal di daerah pantai mendapat ancaman serius, lalu perlahan ratusan tahun ke depan gunung pun akan ditelan air laut.

“Saya memprediksi bagi mereka yang panjang umur lebih 100 tahun ke depan, akan banyak kampung dan kota di pinggir laut, termasuk Jakarta akan tenggelam,”katanya.

Solusinya tidak tanggung-tanggung, semua negara ketakutan, beberapa tahun silam, kepala negara seluruh dunia telah berkumpul di Bali mengatasi global warming menyelamatkan dunia, senjata pamungkasnya adalah pelihara hutan sebagai sumber O-2 (oksigen) yang bisa berubah menjadi O-3 (ozon penyaring panas sinar matahari), maka umur bumi akan bertahan lebih lama.

“Untuk keperluan itu, kita gaji Polisi dan Polisi Kehutanan termasuk Dinas Kehutanan Dan Perkebunan, kita bayar mahal mereka,bahkan PBB memberi perawatan hutan untuk setiap hektarnya, kalau aparatur negara tidak tanggap, ya LSM dan boleh juga warga secara pribadi wajib mengingatkan atau sudah saatnya penegak hukum diberikan kesempatan mengikuti kursus tentang fungsi Hutan,” jelasnya.

Dirinya salut dan bangga memberikan penilaian positif kepada Bara JP dan LSM PUTAS yang berkerja memantau hutan tanpa digaji, dan jangan gentar, bersiap-siaplah menghadapi serangan balik dari oknum perusak hutan berupa kemungkinkan ancaman terror atas sikap kita sebagai pemerhati hutan.

“Bisa-bisa kita akan disuguhkan suap yang menggiurkan sebagai alat kerangkeng mulut berbicara dan gari tangan agar jangan menyurati Presiden, Menteri Kehutanan dan Lingkungan serta Kapolri, hal ini sangat beralasan karena mereka akan terancam 9 –15 tahun penjara”. terangnya.

Lebih lanjut Daulay menyebutkan LSM PUTAS dan GAPOTSU sebagai informan tersebar di setiap Kabupaten dan Kecamatan di Propinsi Sumut, Aceh, Riau dan Sumbar, bahwa warga peduli hutan silakan hubungi mereka, berikan informasi akurat, maka akan di teruskan kepada pihak berkompeten .[daulay]

Foto|Ist

News Feed