oleh

Gubernur Akmil Bumikan Pancasila Dihadapan 309 Mahasiswa Baru Universitas Esa Unggul

OKEBUNG I
Gubernur Akademi Militer (Akmil) Mayjend TNI Totok Imam Santoso, S.I.P., S.Sos., M.Tr.(Han) memberikan ceramah secara virtual dari ruang kerjanya kepada mahasiswa baru Universitas Esa Unggul di Ruang Aplikasi Zoom Meeting Kampus Universitas Esa Unggul Jakarta.

Sebanyak 309 mahasiswa perguruan tinggi tersebut, mengikuti ceramah sang Jenderal Bintang dua di pundak itu. Adapun tema ceramahnya “Membumikan Pancasila Sebagai Landasan Menghadapi Tantangan Di Era Digital”.

Gubernur Akmil memaparkan kepada mahasiswa baru Universitas Esa Unggul yang disampaikan secara virtual, di kawasan regional Asia Tenggara berkembang beberapa isu strategis, antara lain, perjanjian kerja sama pertahanan negara-negara persemakmuran Inggris (FPDA).

“Negara-negara tersebut meliputi, Malaysia, Singapura, Australia, New Zealand dan Inggris,” ujar Gubernur Akmil.

Yang patut diwaspadai lanjutnya, adalah bahwa Indonesia berada di tengah-tengah negara-negara tersebut, kemudian maraknya isu TKA ilegal sebagai masalah diplomatik dan perdebatan tentang kendali ruang udara di wilayah Singapura dan sekitarnya.

Selain itu, isu batas negara dan konflik Laut China Selatan, juga pembangunan pangkalan Marinir AS di Darwin dan pangkalan Diego Garcia di Samudera Hindia yang sering luput dari pantauan.

Terlepas hal itu, perkembangan global yang persaingan perebutan world dominance juga terindentifikasi dari rilis laporan Pentagon ke kongres menyatakan bahwa China memiliki rencana untuk membangun pangkalan militer di Indonesia beserta negara-negara Asia Tenggara lainnya.

“Terdapat beberapa hal yang dapat dipetakan sebagai potensi ancaman nasional. Berkaitan dengan membumikan Pancasila, perlu dipahami bahwa ancaman di era digital dapat berkohesi dengan teknonogi cyberspace yang pada akhirnya berimplikasi pada pergeseran nilai sosial budaya,” tandas Gubernur Akmil.

Gubernur Akmil mencontohkan, pegeseran nilai ditandai dengan semakin banyaknya anak muda yang memiliki cita-cita untuk menjadi influencer, youtuber, selebgram dan lain-lain. Pergeseran nilai inilah yang perlu disikapi secara serius berpegang kepada Pancasila sebagai kristalisasi nilai-nilai luhur serta jati diri bangsa Indonesia.

Selain itu, kemajuan teknologi dalam era digital juga bersinggungan dengan degradasi ideologi, merebaknya politik identitas, meningkatnya kesenjangan sosial, maraknya peredaran Narkoba, Seks Bebas, dan lain-lain.

Kemudian Mayjend TNI Totok Imam juga menghimbau, di saat pandemi Covid-19, seluruh masyarakat untuk tetap tinggal di rumah. Dengan keluangan waktu yang cukup banyak serta tanpa adanya kesadaran tentang pengamalan nilai luhur Pancasila, maka sangat terbuka kemungkinan individu akan memanfaatkan sarana teknologi seperti telepon pintar untuk membuat video dan mempostingnya di media sosial sehingga menjadi viral.

Menurut Lembaga Riset Siber CISSReC, lanjut Gubernur Akmil, saat ini ancaman pandemi virus corona bukanlah satu-satunya ancaman terhadap eksistensi Pancasila pada era serba digital sekarang.

Namun, beberapa ancaman itu, dengan tersedianya waktu luang akibat dari PSBB, yang didukung dengan provider jaringan seluler yang mengeluarkan promo-promo dan seluruh instansi pemerintah serta perusahaan swasta mendorong penggunaan aplikasi virtual, maka ancaman hacker menjadi semakin berbahaya.

Kemudian beredarnya hoax akibat banyak waktu luang dan ketakutan terhadap corona menjadi lebih berbahaya dari sebelumnya. Dan pergeseran bullying yang secara fisik menjadi virtual dan memiliki resiko yang lebih berbahaya bagi korban.

Dengan adanya jual beli secara digital maka terbuka kemungkinan untuk sentralisasi ekonomi global yang sudah pasti akan merugikan UMKM sebagai ujung tombak ekonomi di Indonesia.

Mayjen TNI Totok Imam menjelaskan, selanjutnya dalam kuliah ini Gubernur Akmil menyimpulkan, hubungan antara membumikan Pancasila dan menghadapi ancaman di era digital, tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia di era digital yang berimplikasi pada

News Feed