oleh

Dugaan Cabul Kepsek SMK 8 Hadirkan Saksi Palsu

MEDAN-OKB|
Suasana hening tiba-tiba mendadak heboh di Pengadilan Negeri Medan, Selasa (15/07/2014) siang. Pasalnya, keluarga korban dugaan pelecehan seksual mengamuk kepada saksi yang meringan terdakwa, Erni. Luapan kemarahan pun ditujukan ke Guru Bahasa Indonesia yang bertugas di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMK) 8 Medan itu.

“Kami nanya ke dia (Erni), apa maksud dia memberi keterangan kalau kepala sekolah memang lagi mual mual makanya minta urut. Kami semua marah-marah sama dia,” kata James Douglas Bangun selaku abang kandung Melati (17) nama samaran, kepada wartawan.

Disitu, Erni langsung mendataangi Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rizky Harahap. “Saya tidak suka digitukan,” tambah James menirukan ucapan Erni ke jaksa.

Melihat keadaan ricuh, sejumlah security pun mengawal Erni untuk keluar melalui pintu belakang. Dalam sidang tertutup atas terdakwa Kepsek SMK 8 Medan, Ali Hasmi Nasution itu, lanjut James, Erni diduga memberi keterangan palsu atau sengaja dibuat-buat.

Bahkan, Erni juga sempat dibentak oleh majelis hakim yang diketuai oleh Dahlan Sinaga itu.
“Keterangan banyak dibuat-buat. Hakim sempat membentak saksi. Dia bersaksi bahwasannya kepala sekolah itu datang ke sekolah memang sedang sakit. Tapi dia gak berani bilang kalau seorang kepala sekolah itu pantas minta urut ke murid perempuannya,” terang James.

Selain itu, James mengungkapkan kalau Erni banyak tidak tahunya saat ditanya hakim.
“Dia ditanyain hakim apa apa jawabannya gatau atau lupa. Sampai hakim nanyak lantas apa maksud dan tujuan nya datang ke persidangan. Apa yang ditanya, lain yang dijawab,” tandas James mengakhiri.

Dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rizky Harahap, terdakwa Ali Hasmi Nasution dianggap bersalah melakukan pelecehan seksual dan dikenakan Pasal 82 Undang-Undang Perlindungan Anak. Diketahui, Melati yang diketahui berkediaman di kawasan Padang Bulan, bersama orang tuanya melaporkan Kepsek SMK 8 ke Mapolresta Medan. Bahkan, mereka juga melaporkan Ali ke Kantor Komnas Pokja Perlindungan Anak Medan akibat diduga adanya pelecehan seksual itu. Peristiwa itu terjadi pada 4 September 2013 silam. Ketika itu, korban bersama rekan-rekannya sedang melaksanakan praktek perhotelan yang dilakukan di lantai 2 sekolah tersebut.

Namun, Kepsek meminta korban memijat tubuhnya. Tiba-tiba, Ali memegang papan nama di baju sehingga mengenai bagian branya. Kejadian tersebut, juga disaksikan dua rekan korban, Rini dan Tika. Tak terima, korban pun langsung melaporkan kejadian kepada orang tuanya. Saat di kepolisian, Ali tidak ditahan. Setelah berkas dikirim ke kejaksaan, Ali baru ditahan. (Ema)
Foto :Ilustrasi/Net/

News Feed