oleh

Dituding Bandar Sabu,Edi Ditangkap,’Diperas’ Oknum VC Poldasu,Dari Rp 200 Juta,Ujungnya Jadi Rp 75 Juta

OKEBUNG|
Citra kepolisian kembali tercoreng akibat ulah enam oknum Polisi yang mengaku bertugas di Unit Vice Control (VC Ditreskrimum Polda Sumut ini.Pasalnya,keenamnya melakukan pengerebekan dan penggeledahan diduga tanpa prosudur di sebuah rumah di Jalan Petai No 27 Kelurah Jati Utomo Binjai Utara,Provinsi Sumatera Utara, Jumat (01/05/20150 sekira pukul 14;30 WIB.

Akibat penggerebekan dan pengeledahan serta penangkapan ala koboy yang dilakukan oknum Polisi,
tersebut pemilik rumah jatuh pingsan dan kehilangan uang puluhan juta rupiah serta perhiasan emas di dalam lemari sebanyak 20 gram.

Kepada wartawan,Selasa (05/05/2015), Mai’I (49) bersama Kartini dan keponakannya Rudi Kurniawan menuturkan,bahwa dirinya sangat kecewa dan merasa dirampok diduga dilakukan oleh empat oknum yang mengaku bertugas di unit VC Polda Sumut yang diketahui bernama Aipda Malan Harahap, Aiptu PC Laban, Pamona Hutagaul, Victor Hutabarat dan kawan-kawannya melakukan penggerebekan, penggeledahan dan penangkapan tanpa di lengkapi surat perintah.

“Ini negara hukum,bukan negara koboy,apa lagi mau melakukan pengerebekan penggeledahan,dan penangkapan tidak membawa surat apa pun.Tentu itu salah.Yang parahnya lagi oknum Polisi itu tidak ada membawa Kepala Lingkungan (Kepling),saat melakukan penggerebekan dan penggeledahan, “kesal Mai’I.
 
Lanjutnya,dimana para oknum Polisi tersebut masuk dengan cara memanjat pagar rumahnya,dan turun di pekarangan. Selanjutnya masuk kedalam rumah dengan cara merusak pintu,padahal rumah orang tuanya Mail itu ada pemiliknya di dalam dan bukan kosong,

“Macam maling dan perampok saja oknum-oknum Polisi mengaku dari VC Polda Sumut itu.Apa cara seperti itu dibenarkan dalam undang-undang atau apakah cara seperti itu yang di ajarkan oleh para pejabat Polri kepada anggotanya,”beber Mai’I lagi.

Bukan itu saja perlukaan ala koboy yang dilakukan oknum Polisi itu.Namun,saat abangnya Edi alias Apiu yang berada dalam kamarnya juga ditangkap dengan tuduhan kepemilikkan sabu. Padahal sabu tersebut bukan dari badan abangnya.

“Entah dari mana polisi itu, menemukan sabu. Tiba-tiba saja ada,” ucapnya heran
 
Selain itu Mei I juga menyebutkan ,aksi ala Koboy Aipda Malan Harahap dan kawan- kawannya terus berlanjut tanpa ada yang mengawasinya ,mereka menuju kamar ke dua dan di kamar kedua polisi tersebut merusak pintu kamar dan langsung mengacak-acak seluruh isi kamar dan membuka lemari pakaian,dan kamar itu terletak disudut paling kiri.

“Namun usai melakukan penggerebekan dan mengacak-acak seluruh isi rumah,kakak ipar saya (istri Edi Red) memeriksa lemarinya dan ternyata uang sebesar Rp 32 juta dan perhiasan emas 20 gram yang disimpan dalam lemari sudah raib,dan ada dugaan diambil oleh Aiptu Marlan dan kawan -kawannya,”ungkapnya
 
Mei juga menyebut kalau 6 orang anggota Polisi itu, mengobok-obok seisi rumahnya. bahkan,dikatakannya kalau mesin rekaman CCTV yang ada di rumahnya diminta paksa oleh 6 orang anggota Polisi itu lalu dirusak.”CCTV kami diminta secara paksa lalu dirusak mereka semua,”sebutnya.

Ironisnya perbutan tidak terpuji oknum polisi itu menuduh abang saya (Edi Red) memiliki sabu,dan Edi dibawa mereka,Namun ditengah jalan oknum polisi itu mengatakan,si Edi bisa dibebaskan dari semua tuduhan bila menyerahkan uang sebesar Rp 200 Juta.Tapi karena tidak ada uang sebanyak itu, tawar menawar harga pun terjadi. Dimana polisi tersebut selanjutnya menurunkan harga sebesar Rp 150 Juta.

“Pertama Rp 200 Juta, selanjutnya karena tidak ada uang jadi Rp 150 juta tapi masih tidak menyanggupi. Dan akhirnya Aipda Malan Harahap meminta 75 juta,dengan terpaksa Edi
menyepakatinya.Dan selanjutnya,Edi menyuruh istrinya untuk menyiapkan uang perdamaian sebesar Rp 75 Juta,”bebernya.

Lanjutnya,uang tersebut harus diserahkan kepada Akui tangan kanan Aju Brahrang.Tetapi keluarga
Edi tidak mau memberi uang perdamaian tersebut kepada Akui Brahrang, karena keluarga Edi tahu kalau Edi tidak bersalah atas tuduhan kepemilikan sabu biar saja Edi di bawa ke Polda sumut, karena mereka masih percaya Indonesia masih menjunjung hukum.

“Kami yakin Edi dijebak mereka dan tidak bersalah.Kalau semua dituruti apa kata oknum-oknum Polisi tersebut bisa hancur negara ini,” ucapnya kesal.

Merasa dirugikan,selanjutnya keluarga Edi pun melaporkan kasus tersebut ke Polres Binjai dengan nomor laporan, LP/260 /V/ 2015/SPKT-III/Reskrim.

“Hari itu juga langsung kami laporkan ke Polres Binjai dan hari ini (Selasa red) kami rencana mau melaporkan kasus tersebut ke Propam Poldasu, namun ditolak oleh Kasubbag Yanduan Bidang Propam Poldasu, Kompol SM Sitanggang.,” ucap Mei kesal seraya menyebutkan akan membawa kasus ini ke Kapolri dan Presiden Jokowi.

Menyikapi penolakan laporan itu, Kepala Bidang Humas Polda Sumut, Kombes Pol Helfi Assegaf menyebut kalau hal tersebut sesuai prosedur. Laporan perampokan harus dibuktikan terlebih dahulu.Kalau personil Polisi yang hendak dilaporkan, menjadi jelas.

” Kalau soal penggerebekan itu, sudah kita periksa dan ternyata ada surat perintahnya. Kalau masalah harus ada Kepling dalam penggerebekan, tidak ada diatur di KUHAP. Penggerebekan itu dilakukan, karena sudah menjadi Target Operasi (TO) kita dalam kasus narkoba, ” ungkap Helfi singkat.(EL)

Foto|ist\CCTV Dirusak.

News Feed