oleh

Ditangkap KPK,Nyimpan Narkoba, Harry Diserahkan ke Polda Metro Jaya

OKEBUNG|
Harry (HR), satu dari delapan yang ditangkap dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menjerat anggota Komisi VII DPR RI, Dewie Yasin Limpo,Selasa (20/10/2015) lalu,akhirnya diserahkan ke Polda Metro Jaya, Kamis (22/10/2015) dinihari karena di tas tersangka ditemukan barang bukti narkoba.

Harry merupakan  pengusaha yang turut ditangkap oleh KPK bersama lima lainnya saat OTT di rumah makan di bilangan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Ia ditangkap saat mendampingi koleganya, Setiadi saat melakukan serah terima suap dengan anak buah Dewie, Rinelda Bandaso. Harry kemudian turut diperiksa secara intensif di markas KPK namun dinyatakan tidak terlibat, bersama dua orang lainnya, yakni berinisial DEV dan seorang supir.

Pun, ia digiring ke Polda Metro Jaya terkait temuan narkoba. “Narkoba itu ditemukan di tas Harry saat OTT. Dia kemudian diserahterimakan ke Polda, bersamaan dengan penahanan para tersangka lain, dini hari tadi,” kata Pelaksana harian (Pl) Kepala Biro Humas KPK, Yuyuk Andriati dalam pesan singkat, Kamis (22/10/2015) dikutip dari poskotanews.com.

Sebelumnya, KPK telah menetapkan lima dari delapan orang yang ditangkap dalam OTT sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap Proyek Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro di Kabupaten Deiyai, Provinsi Papua untuk anggaran 2016. Kelima orang tersebut adalah Dewie Yasin Limpo, Rinelda Bandaso, Setiadi, Bambang Wahyu Hadi, dan Iranius.

Dalam kasus ini, Dewie Yasin Limpo, Rinelda Bandaso, dan Bambang Wahyu Hadi diduga sebagai penerima suap. Ketiganya disangkakan Pasal 12 huruf (a), huruf (b) atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang tindak pidana korupsi. Sementara Setiadi dan Iranius diduga sebagai pemberi suap. Keduanya sangkakan Pasal 5 ayat 1 huruf (a), huruf (b) atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang tindak pidana korupsi. (red)

Foto|ilustrasi.dok.net

News Feed