oleh

Brigadir Manalu :Dicurigai,Disuruh Berhenti Gak Mau,Dikejar Tak Dapat,Begitu Ketemu Sudah Tersungkur di Aspal

*Fadli:Kami Keluar Dari Rumah Tak Ada Bawa Apa-Apa,Kenapa Dituduh Ada Buang Sesuatu Benda*

MEDAN -OKB|
Terkait dugaan kasus penganiayaan dan perampokan yang ditudingkan dua remaja terhadap salah satu oknum personil Sabhara Polresta Medan berbuntut panjang dan ternyata tudingan tersebut mendapat bantahan dari Brigadir
G.S.S.Manalu (33).

Pasalnya,kedua remaja tersebut tidak ada dipukul dan dirampok tabletnya.Karena saat dikejar dan ketangkap setelah mengalami kecelakaan lalu lintas akibat menabrak pembatas jalan di Jalan Gatot Subroto/persimpangan Jalan Nibung Raya Medan Petisah sehingga keduanya tersungkur dan mengakami luka-luka langsung dikerumuni warga dan ditolong beberapa orang polisi.

“Memang sebelumnya keduanya saya kejar karena waktu disuruh berhenti tak mau mereka itu.Dan mereka ada membuang sesuatu bungkusan kecil,sehingga saya semakin menaruh curigaan,”ungkap Brigadir Manalu kepada okebung.com,Kamis (10/07/2014)sore.

Dia menyebutkan,keduanya diamankan bermula disaat dirinya sedang melintas di jalan tersebut.Karena melihat keramaian,personil yang sedang melakukan patroli tersebut mencoba untuk melihat. Begitu petugas melihat dan berniat menolong korban tersebut, ternyata dua pria tersebut yang merupakan korban laka lantas itu sebelumnya yang sempat diuber-ubernya ketika disuruh berhenti tidak mau.Lantaran keduanya mencurigakan sehingga dilakukan pengejaran terus hingga keduanya menghilang.

Namun,pas melakukan patroli,personil Shabara Polresta Medan itu melihat ada keramaian dan langsung berhenti.Begitu dilihatnya ternyata kedua korban yang sebelumnya diuber-uber lantaran tak mau berhenti ketika distop polisi.

“Saya melihat keramaian makanya berhenti dan berusaha menolong korban.Namun,begitu saya perhatikan ternyata kedua remaja itu yang sebelumnya sempat saya uber-uber makanya saya bawa ke Polsek Medan Baru,”jelas Brigadir Manalu.

Melihat ada keramaian,lantas petugas bertanya kepada warga sekitar apa yang telah terjadi sama mereka.

” Tak lama saya tanya kepada warga sekitar kenapa mereka berdua bisa terjatuh, kemudian salah satu warga bercerita sama saya kalau mereka terjatuh karena mereka membawa sepeda motornya begitu kencang dari arah Jalan Nibung Raya dan melawan arah ke Bundaran SIB. Begitu dibelahan pembatas jalan mereka langsung menabrak trotoar dan langsung terpental.itullah yang dikatakan warga.” katanya.

Terkait adanya pemberitaan dibeberapa media massa dan online yang menyebutkan keduanya dianiaya dan dirampok tabletnya ternyata dibantah personil Shabara Polresta Medan.

“Mana ada kami rampok keduanya itu,sedangkan ditanya pas di Polsek Medan Baru saja,keduanya mengaku tidak membawa barang apapun.Ini sudah direkayasa oknum tertentu yang ingin memanfaatkan suasana agar bisa meraih sesuatu.boleh tanya sama petugas SPKT malam itu,mereka juga mendengar kalau keduanya tidak membawa barang apapun dan tidak ada membuang sesuatu benda dijalan,”ungkap Brigadir Manalu lagi.

Masih dijelaskannya,saat keduanya berada di SPKT Medan Baru,personil Shabara dan petugas SPKT Polsek Medan Baru menyuruh keduanya untuk memanggil kedua orang tua mereka untuk hadir di Polsek Medan Baru.Begitu hadir orangtuanya.Keduanya pun langsung disuruh pulang dan berobat sekaligus membawa sepeda motornya yang sudah rusak akibat menabrak pembatas jalan.

“Saya sudah niat baik karena keduanya disuruh pulang saja.Kalau niat jahat dan tidak menghargai keluarganya yang bertugas di salah satu media mingguan itu,tentu saya sudah paksa petugas untuk memeriksa kelengkapan kendaraan dan minta keduanya di tes urine,”imbuhnya.

Ironisnya,keesokan harinya diperoleh informasi bahwa kedua pria tersebut mendatangi Poresta Medan untuk membuat pengaduan yang katanya dirampok Tabletnya dan dianiaya oleh petugas kepolisian.Di Polresta Medan keduanya membuat laporan sesuai dengan Nomor Laporan Pengaduan No.STTLP/1733/Vll/2014/Resta Medan.

“Setelah semua sudah selesai,saya terkejut tiba – tiba esok harinya mereka membuat laporan ke Polresta tentang peristiwa tadi malam. Mereka melaporkan kalau saya ingin merampok dan memukuli mereka.Itu semua tak benar.Saya saja mengejar mereka tak dapat.Begitu ketemu keduanya sudah terkapar di jalan karena menabrak trotoar akibat mengendarai sepeda motor ngebut sekali,”jelasnya.

Kitakan sebagai anggota polisi yang diperintahkan atasan untuk berpatroli memang punya hak memberhentikan seseorang yang kita lihat sangat mencurigakan.Apalagi disuruh berhenti tidak mau berhenti.Tentu siapapun aparatnya akan semakin menaruh curiga.

“Saya suruh berhenti karena gelagat keduanya mencurigakan dan tidak memakai helm.Apalagi sekarang musim perampokan dan curanmor,tentu saya semakin curiga sekali.Makanya saya kejar.Kalau memang saya ada merampas tas hitamnya berisi satu unit Tablet Samsung milik Fadli Pranata,mungkin aku tidak berani menjalankan dinas dan kewajibanku secara terang-terangan bang.Kalau tudingan semua itu tak benar.Tapi saya tetap tidak terima dilaporkan atas kasus perampokan dan penganiayaan mereka.Apabila tidak terbukti,maka saya akan menempuh jalur hukum juga,”tegasnya.

Diruang SPKT Mapolsek Medan Baru,keduanya diamankan dalam keadaan luka-luka lecet.Dan Fadli terlihat mencak-mencak emosi sembari mengatakan bahwa dirinya keluar dari rumah tak ada membawa apapun.Apalagi membuang sesuatu barang seperti yang ditudingkan petugas Shabara.

“Tak ada aku membuang barang apapun,aku tak mau berhenti karena parno (paranoid,red) melihat polisi.Makanya aku kabur.Lagi pula aku tak ada bawa barang apapun pas dikejar itu,ini malah dituduh pula membuang sesuatu,”kesalnya dihadapan petugas SPKT dan Shabara serta wartawan.

Anehnya,dalam kasus ini kedua korban melaporkan ke polisi bahwa mereka dirampok Tablet Samsung- nya dan jatuhnya nabrak aspal karena dikejar serta dianiaya.Sementara pengakuan Fadli saat di Mapolsek Medan Baru ketika ditanya benda apa yang dibuang saat dikejar.Dia membantah ada membuang sesuatu dan tidak ada bawa barang ataupun benda apapun saat keluar dari rumah.

Dalam kasus ini diminta penyidik Provam harus jeli dan mencari saksi-saksi benar apa tidak kejadian yang dialami keduanya,seperti dalam laporannya.Jika Tablet Samsung nya dirampok,tentu korban harus memiliki kotak dan bon pembelian sebagai tanda bukti kepemilikan barang tersebut.Jangan hanya karena ada laporan langsung personil itu ditindak.

“Provam harus jeli.Namun yang namanya laporan sah saja diterima,selanjutnya tergantung penyidiknya.Ada baiknya periksa saksi mata dan bukti kepemilikan barang korban.Benar apa tidak dia memiliki benda tersebut,”ungkap sumber.(Ade)

Foto :Logo Shabara/Net/

News Feed