oleh

Bisnis Jual Ijazah University of Sumatera Dibongkar Polresta Medan

OKEBUNG|
Marsaid Yushar Phd (63), warga memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP),Jalan Mesjid Taufik No.123, Kelurahan Tegal Rejo, Kecamatan Medan Perjuangan,harus pasrah menjalani hukuman dibalik jeruji besi penjara.

Pasalnya,pria mengaku rektor dari
University of Sumatera,yang memiliki Kampus I di Jalan Letda Sujono, Medan Tembung,dan Kampus II-nya menumpang di Gedung SMP Swasta PGRI, Jalan Marelan Raya, Kecamatan Medan Marelan ini ditangkap petugas Sat Reskrim Polresta Medan lantaran menjalankan bisnis jual ijazah ilegal di Komplek Perumahan Mekar Sari Blok B No. 1D, Jalan Satria Ujung, Delitua,Kab Deliserdang,Prov Sumatera utara.

Kapolresta Medan, Kombes Pol Nico Afinta Karokaro SIK SH MH, didampingi Kasat Reskrim, Kompol Aldi Subartono, SH MH,SIK dan Kanit Tipiter,AKP Bayu SH,Rabu (27/05/2015)mengatakan bahwa tersangka ditangkap karena menjual ijazah ilegal S1-S3 dengan harga Rp10 juta hingga Rp40 juta.

“Tersangka ini sendiri telah mengeluarkan sebanyak 1.200-an ijazah palsu,” ungkap Nico,seraya menambahkan bahwa usaha tersangka dilakoni sejak tahun 2003 silam.

Lanjut dijelaskan Kapolresta Medan bahwa dalam menjalankan usahanya mencetak ijazah tersebut,tersangka memiliki lokasi berbagai tempat, yakni Percetakan ABC di Jalan Mahkamah Medan, di dalam mobil di Jalan Gatot Subroto Medan, di Jalan Gatot Subroto Medan, di KNPI dan di rumah tersangka, di Delitua.

“Ada beberapa lokasi tempat pencetakan ijazah bodong tersangka,”urainya.

Dari kasus yang kita ungkap ini,lanjut Nico,barang bukti yang diamankan dari tersangka, yakni Format Ijazah S1, S2, S3 (ribuan lembar), ribuan lembar kertas brosur reklame, 1 unit mobil Toyota Vios BL 1308 LG, transkip nilai, uang tunai Rp15 juta, tesis S2 dan tesis S3 (aslinya), blanko ijazah kosong, skripsi, blanko kartu tanda mahasiswa(KTM) dan film/master ijazah.

“Tersangka dibekuk berkat informasi dari masyarakat yang melaporkannya ke pihak kepolisian Polresta Medan,”tegasnya.

Lebih lanjut, Nico mengaku, pihaknya sedang melakukan pemeriksaan intensif guna membongkar jaringan tersebut, karena diduga tersangka dalam melakukan usaha ilegalnya ini tak seorang diri.

“Dari kasus ini tersangka dijerat dengan Pasal 67 ayat (1) dan Pasal 71 UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dengan ancaman hukuman penjara minimal 10 tahun penjara,” tutupnya.[zg]

Foto|ist\

News Feed