oleh

BI Tetap Cermati Risiko Inflasi Kenaikan BBM

OKEBUNG|
Bank Indonesia menyatakan akan tetap mencermati risiko inflasi terutama yang terkait dengan kemungkinan penyesuaian harga BBM bersubsidi jelang akhir 2014.

“Hal ini dilakukan guna meminimalkan dampak lanjutan yang ditimbulkan (dari kenaikan BBM) dan mengarahkan inflasi pada sasaran inflasi yang ditetapkan,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara saat jumpa pers di Jakarta, Selasa.

Tirta menuturkan, pihaknya sudah menghitung dan mengantisipasi dampak kenaikan harga BBM bersubsidi tersebut. Namun ia enggan menjelaskan langkah konkret yang akan ditempuh oleh BI karena belum ada kepastian kapan dan besarnya kenaikan harga BBM.

“Dari sisi baseline, kita sesuai dengan target yang telah ditetapkan dan BI akan tetap menjaga stabilitasnya. Dari perhitungan sekarang, inflasi 4,5 plus minus satu persen itu kalau tidak ada kenaikan administered prices masih bisa tercapai, kita cukup optimis. Itu sudah termasuk dalam hitungan tarif dasar listrik dan elpiji 12 kg,” ujar Tirta.

Inflasi pada September 2014 sendiri menurun dibandingkan bulan sebelumnya dan berada di bawah perkiraan. Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan September mencatat inflasi sebesar 0,27 persen (mtm), lebih rendah dari 0,47 persen (mtm) pada bulan sebelumnya.

Selain berada di bawah perkiraan Bank Indonesia, inflasi September tersebut lebih rendah dari rata-rata historis selama 5 tahun terakhir.

“Penurunan tersebut didukung oleh rendahnya tekanan inflasi volatile food dan terkendalinya inflasi inti,” kata Tirta.

Selain itu, lanjut Tirta, inflasi inti juga masih terkendali, sejalan dengan menurunnya tekanan eksternal, moderatnya permintaan domestik serta masih terjaganya ekspektasi inflasI(ant\net)
Foto ;net\

News Feed