oleh

Bawa Sabu 2,1 Kg,Warga Malaysia Dituntut 16 Tahun

MEDAN-OKB|
Kopal Chetty Annamalai (35) warga negara asal Malaysia yang merupakan terdakwa kasus sabu-sabu seberat 2,1 Kg dituntut oleh JPU selama 16 tahun,dengan denda 1 Miliar subsider 3 bulan.

Dalam sidang agenda tuntutan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Dwi Melya Nova, menyatakan terdakwa telah melanggar Pasal 114 ayat 2 UU No. 35 tahun 2009 tentang narkotika dan menuntut terdakwa dengan kurungan penjara selama 16 tahun denda Rp 1 Miliar dan subsider 3 bulan penjara.

“Meminta kepada Majelis Hakim untuk menjatuhkan kurungan penjara selama 16 tahun kepada terdakwa karena memiliki narkotia golongan I bukan tanaman dan melanggar pasal 114 ayat 2 UU no 35 tahun 2009 tentang narkotika,” terang JPU di Ruang Chandra I Pengadilan Negeri Medan, Senin (14/07/2014) sore.

Menanggpi hal itu terdakwa melalui Penasihat Hukumnya, Tety, SH, pun akan mengajukan pleidoinya pada persidangan selanjutnya.

Majelis hakim yang diketuai oleh, Firman, SH, ini pun menunda persidangan pada Selasa (21/07/2014) mendatang.

Sebelumnya diketahui, untuk mengelabui petugas ternyata tidak membuahkan hasil. Meski telah dilapisi karbon dan ditutupi triplek, narkotika jenis sabu-sabu seberat 2,1 Kg yang dibawa warga negara (WN) Malaysia itu tidak luput dari pengamatan petugas Beacukai Bandara Kuala Namu International Airport (KNIA).

Alhasil, pria yang tinggal di Taman Gembira 73200 Gemencheh Negeri Sembilan Kuala Lumpur Malaysia ini ditangkap di Terminal Kedatangan Luar Negeri pada Jumat tanggal 14 Februari 2014.

Dalam kasus ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dwi Meily Nova menghadirkan dua petugas Beacukai yakni Bobby Hartanto Sinaga dan Deddi Filo Ginting. Dihadapan Majelis Hakim yang diketuai oleh Firman itu, Bobby menjelaskan kalau terdakwa Kopal datang dari Kuala Lumpur menuju Medan dengan menumpang pesawat Malaysia Air Lines.

“Dia (Kopal) datang kemari dengan membawa koper. Saat koper itu melewati mesin X-Ray, kita melihat barang berwarna orange kehijauan. Disitu kami curiga,” jelas saksi Bobby.

Setelah itu, lanjut Bobby, petugas mencocokan nomor label yang ada di tas koper berwarna coklat tersebut dengan tiket.
“Kita mencocokan untuk mengetahui siapa pemilik koper itu. Nah, setelah pemiliknya datang, kita periksa isi dalam koper tersebut. Terdakwa sendiri yang buka koper itu,” tambah pria yang sudah bekerja 8 tahun di Beacukai itu.

Ketika dibuka, ditemukan 3 bungkus plastik sabu seberat 2,1 kg.
“Awalnya kita tes barang itu dengan alat arkotes berbentuk cairan. Caranya sabu itu dimasukan sedikit. Disitulah baru tau kalau itu sabu,” ungkap Bobby.

Saat ditanya hakim, apa gak ada kerjasama dengan pihak beacukai Malaysia, karena sering terdengar kalau di Bandara Malaysia kerap lolos sabu-sabu, Bobby menjawab sudah bekerjasama.
“Masalah kerjasama itu, pimpinan yang tau pak,” jawab Bobby. Selanjutnya, giliran saksi Dedi yang memberi keterangan.

Ia mengatakan, kalau barang haram itu dilapisi karbon dan ditutupi triplek. “Dibawah triplek itulah kita temukan 3 bungkus sabu. Saat kit interogasi, awalnya dia bilang gak tau. Setelah ditanya lebih lanjut, dia bilang hanya disuruh orang dan mengantarnya. Namun, dia dikontrol lewat hape. Kami tanya siapa yang nyuruh, dia tidak tahu,” terang Dedi.

Setelah mendengarkan keterangan saksi, majelis hakim pun menunda persidangan hingga minggu depan dengan agenda pemeriksaan terdakwa. (Ema)
Foto :Ilustrasi/Net/

News Feed