oleh

Anak Syamsul Divonis 1 Tahun 8 Bulan Penjara, JPU Banding

OKEBUNG |
MTA (18) dan MHB (18), dua terdakwa penyiksaan pembantu rumah tangga (PRT) akhirnya divonis Majelis Hakim 1 tahun,8 bulan.

Namun, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Medan menilai vonis yang dijatuhkan hakim terlalu ringan sehingga Jaksa Penuntut Umum (JPU)menyatakan banding.

“Untuk kedua terdakwa itu, kita melakukan upaya hukum banding yang segera kita daftarkan ke Pengadilan Tinggi Medan,” ungkap Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasipidsus) Kejari Medan Dwi Agus Arfianto di Medan, Sumatera Utara (Sumut), Rabu (07/01/2015).

Menurut Dwi, putusan hakim tunggal Nazzar Effriandi pada Senin (5/1/2015) kemarin belum mencerminkan rasa keadilan di tengah masyarakat. Selain itu, terdapat dakwaan JPU yang diabaikan dan tidak menjadi pertimbangan hakim.

Khusus untuk MHB, jaksa ingin mengajukan  argumentasi mengenai Pasal 338 KHUPidana sesuai dengan dakwaan.

“Kenapa putusan hakim hanya mengenakan Undang-Undang No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT,” tanya Dwi.

Dalam perkara ini, hakim Nazzar Effriandi memvonis MHB 5 tahun penjara, sedangkan MTA dihukum 1 tahun 8 bulan penjara.

Hakim tidak sepakat dan tidak sepaham dengan JPU yang mendakwa kedua terdakwa dengan Pasal 351 KUHP dan khusus MHB ditambah dengan Pasal 338 KUHPidana.

Hakim menyatakan MHB dikenakan Pasal 44 ayat (1) dan (3) UU No 23 Tahun 2004 tentang KDRT jo Pasal 181 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 56 KUHP. Sementara MTA dikenakan Pasal 44 ayat (1) UU No 23 Tahun 2014 tentang Penghapusan KDRT jo Pasal 181 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 56 KUHP.

Hakim tidak sepakat dengan Pasal 338 dan 351 KUHP, karena penganiayaan yang didakwakan terjadi di lingkup keluarga. Karena itu, perbuatan itu masuk dalam ranah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Menurut hakim, hal yang meringankan hukuman terdakwa MHB dan MTA yaitu keduanya mengakui dan menyesali perbuatannya. Keduanya juga masih anak-anak. Pertimbangan lain, ayah terdakwa MTA, Syamsul Anwar alias Syamsul Rahman sudah menyampaikan iklan permohonan maaf kepada keluarga korban melalui media cetak di Medan.

MTA dan MHB diadili lebih awal karena usianya masih anak-anak saat peristiwa pidana itu terjadi. Masa penahanan mereka terbatas.

Sementara, lima tersangka lainnya masih dalam proses pemberkasan di kepolisian. Kelimanya yaitu pasangan Syamsul dan Radika, keponakannya Jakir, dan pembantunya Kiki Andika, serta sopirnya Ferry Syahputra. MTA merupakan putra Syamsul, sedangkan MHB adalah pembantunya.

MTA dan MHB bersama kelima orang itu berurusan dengan penegak hukum setelah rumah Syamsul di Jalan Beo, Medan, digerebek polisi beberapa waktu lalu. Dari rumah itu diselamatkan 3 PRT yang menjadi korban penganiayaan. Belakangan diketahui seorang PRT bernama Hermin alias Cici telah dibunuh di sana. Mayatnya ditemukan di Barus Jahe, Karo. (BS\Net)

Foto:dok|

News Feed